Kuota 2005: Rupa dan Peralihan
Tahun 2005 dijadikan tahun acuan untuk mengamati proses peralihan baik secara sosiologis maupun aspek estetik seniman yang kali ini dipamerkan. Langkah ini menandakan suatu parameter penilaian dimana kurator mengikuti seksama perjalanan seniman juga komunitas seni sesuai dengan siknifikansi, kontribusi dan konsistensi mereka dalam lapangan seni rupa. Pemilihan didasarkan pada karya dan figur seniman yang sepanjang tahun 2005 memberikan gagasan-gagasan berharga bagi perkembangan seni rupa. Kurator akhirnya berhasil memilih seniman atau komunitas seni dari berbagai kota yang dianggap telah memberikan kontribusi memadai bagi perkembangan seni rupa dewasa ini. Pendekatan reflektif dalam pameran ini sekurangnya tercium mengingat waktu pameran yang dipilih, yaitu diambang akhir tahun 2005. Akan tetapi, refleksi demikian tidak difungsikan sebagai ketegasan untuk melakukan kerja evaluasi. Hampir seluruh karya yang dipilih oleh kurator dalam pameran ini sebelumnya pernah dipamerkan di berbagai galeri, maupun dalam peristiwa seni rupa sepanjang tahun 2005.
Agus Suwage dipilih karena kontribusinya pada kegairahan baru dalam estetika juga menguak wacana identitas melalui lukisan; dalam karyanya, Andy Noor Samsi berhasil memadukan material tanah liat (keramik) sebagai representasi masalah sosio-urban di Indonesia; Biranul Anas sebagai seniman yang mengembangkan persoalan seni serat melalui karya-karya tapestrinya sekaligus tokoh teknik serat ini dalam lapangan kesenian Indonesia; Budi Kustarto, pelukis muda yang menggelisahkan presentasi tubuh dalam kanvas begitupula karya pelukis Dadan Setiawan yang mengembalikan kembali genre lukisan landscape dalam bahasa yang lebih maju dibandingkan genre serupa sebelumnya sebagaimana yang minat dilakukan oleh Dikdik Sayahdikumullah. Sebagaimana Dadan, pelukis ini menghadirkan citraan landscape (atau objek) yang mengalami teknik ‘blur’. Teknik ini sekurangnya menandakan genre baru dalam dunia seni lukis Indonesia. Lukisan Sigit Santoso yang mengadopsi citraan Yesus dihadirkan sebagai kritik gender. Yesus dalam karyanya telah merubah kelamin sebagai perempuan. Adapun S. Teddy D memamerkan lukisan potret seukuran tubuh. Lukisan-lukisan ini dikerjakan dalam suatu projek khusus di tahun 2005 yang menyoal perkara cermin mengenai diri sendiri.
Eko Nugroho yang masih mengenyam pendidikan di ISI-Yogyakarta muncul di pelataran seni rupa kita dengan media komik. Ilustrasi dan teks-teks yang dihadirkannya cenderung nakal, sinis dan sarat humor. Dalam pameran ini dia menampilkan karya dengan teknik bordir, suatu teknik yang cukup orisinal untuk melengkapi khazanah media seni rupa kontemporer kita. Baik FX Harsono dan Tisna Sanjaya telah dikenal publik sebagai seniman yang konsisten dengan problematika sosial, isu-isu lingkungan tanpa harus menyampingkan kecermatan mereka pada estetika karya. Abu dan arang akibat pembakaran karya Tisna Sanjaya oleh Pemkot-Bandung dua tahun lalu dihadirkan dalam pameran ini sebagai karya objek serta lukisan eksperimen yang menarik. Adapun karya Handiwirman dan Yuli Prayitno yang cenderung tertarik pada objek tentu saja siknifikan dalam perbincangan kita terhadap seni objek maupun instalasi. Kedua perupa ini bergerak jauh untuk menghimbau kita pada objek-objek sederhana yang sehari-sehari kita lupakan. Di tangan mereka objek-objek tersebut bisa bicara apa saja. Pelukis Ivan Sagito sebagaimana kita ketahui adalah eksponen genre surealisme di Yogyakarta. Karya dia kali ini memanfaatkan medium kayu yang diukir sedemikian rupa seperti untaian air-mata. Busana karya Titarubi dipilih karya kekuatan konsepsi dan daya tarik medium. Titarubi merancang suatu gaun terbuat dari manik-manik plastik yang menyerupai intan-permata atau berlian. Titarubi berhasil mengelabui mata kita yang sekaligus menyodorkan soal budaya imitasi dalam masyarakat pasca kolonial sebagaimana melanda bangsa kita. Dalam karya Setiawan Sabana, yang sepanjang 2005 mengadakan pameran bertajuk Legenda Kertas, kita disuguhkan instalasi mengenai haru-biru kesucian, sublimasi, spiritualitas dalam kebudayaan kontemporer sekarang.
Selain lukisan, patung, seni objek atau instalasi, pameran ini menampilkan fotografi karya Mohammad Iqbal dan Paul Kadarisman. Iqbal memotret korban Tsunami Aceh dari berbagai lapis masyarakat. Potret itu bercerita banyak mengenai derita, semangat, harapan dan menampar sisi kemanusiaan kita. Foto-foto Paul Kadarisman menampilkan ambiguitas nasional. Dengan mengambil latar Monumen Nasional (Monas), figur-figur manusia dalam foto Paul berlaku sewajarnya, tanpa pretensi berlebihan atau mengobarkan semangat heroik yang justru hendak ditancapkan dalam representasi Monas. Nasionalisme dalam fotografi itu seolah situs purba yang kapan saja boleh dikunjungi oleh masyarakat. Lalu kompilasi video yang dihadirkan komunitas Ruang Rupa. Komunitas ini sejak kemunculannya berperan sebagai eksponen new media, khususnya komitmen mereka pada seni video.
Akhirnya, ‘Kuota 2005’ mestilah dipahami sebagai istilah yang resikonya sengaja ditempuh kurator sebagai manifestasi keberadaan terkini seni rupa di Indonesia. Adapun istilah ‘Rupa dan Peralihan’, sebagai manifestasi sosiologis, bermaksud menegaskan latar kelahiran karya-karya dari setiap seniman di Indonesia sekaligus peralihan (proses) dalam setiap kecenderungan estetik yang dikerjakan seniman.
Tidak sulit dibantah, bagaimanapun krisis sosial masih melanda bangsa ini. ‘Krisis’ dengan demikian senantiasa akan dipandang sebagai ‘masa peralihan’ untuk menuju masa yang lebih mapan. Masa peralihan dalam konteks seni rupa akan diwaspadai sebagai masa dimana kita semakin memerlukan anasir-anasir tajam dan kritis serta memulai kerja-kerja historis yang bermanfaat. Oleh karena itu, kuota pameran akhirnya ini ditujukan bagi publik seni untuk memulai kembali ingatan bersama terhadap kecenderungan estetik yang pernah dijejaki seniman dan bersama merasakan satu situasi, yaitu: masa peralihan.
|