Langgeng Gallery
 

Bandung Kembali Melukis Pengantar Pameran 3 Desember 2005

Bandung telah mencatatkan diri sebagai kota penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia modern hingga kontemporer.

Sementara itu, pengaruh senilukis Barat (Eropa-Amerika) yang begitu kuat telah menyebabkan Bandung dijuluki sebagai 'laboratorium senirupa Barat' di Indonesia.

Selama beberapa kurun waktu, dampak eksistensi para pelaku senirupa di Bandung yang didukung ITB cukup terasa dalam perkembangan seni kita. Nama-nama besar seperti Sadali, But Mochtar, Mochtar Apin, Srihadi, Sunaryo, Rita Widagdo, Popo Iskandar, dan seterusnya, membawa Bandung ke Indonesia, mungkin bahkan ke dunia, sebagai wilayah senirupa yang tak tanggung-tanggung.

Itulah Bandung yang silam. Bagaimana perkembangan senirupa di Bandung saat ini?

'Benang merah yang putus' adalah sebuah ungkapan yang menurut saya dapat mengambarkan apa yang telah terjadi selama hampir dua dasawarsa terakhir ini.

Walaupun ITB telah melahirkan Hendrawan, Tisna Sanjaya, Arahmaiani, dan Krisna Murti di bidang seni performance dan video, setelah generasi mereka senirupa Bandung seolah surut tinggal sejarah. Tidak terasa adanya generasi baru yang mengisi senirupa Bandung sesudah nama-nama besar di atas. Dan di seni lukislah keterputusan ini paling terasa.

Fenomena ini menarik buat saya. Apakah pengalaman sebagai 'laboratorium senirupa Barat' telah mematikan seni lukis di Bandung? (Yogyakarta, misalnya, yang tak 'sealiran' dengan Bandung, tak mengalami keterputusan matarantai generasional).

Ada dua hal tentang Bandung saat ini, yang layak kita perhatikan. Pertama, bahwa Bandung yang dulu identik dengan senirupa Barat, yang meletakkan pelukis sebagai ‘ikon pasar’, nampaknya sudah tidak lagi demikian. Kedua, benang merah yang terputus agaknya telah tersambung kembali; Bandung telah kembali melukis.

Begitulah asal-usul permintaan saya kepada Aminudin Siregar dan Heru Hikayat untuk mengkuratori pameran para pelukis Bandung ini.

Silakan tengok sendiri apakah pelukis-pelukis muda yang memamerkan karya-karya mereka di Langgeng bisa menjadi 'preman-preman terhadap senilukis modern' sebagaimana para pendahulu mereka.

 

Deddy Irianto
Founder/Director/Curator of Langgeng Gallery

Catatan:


Istilah 'preman-preman terhadap senilukis modern' itu muncul dalam diskusi saya dengan pelukis Yogya, S. Teddy D. 'Senilukis kontemporer adalah premanisme terhadap senirupa modern', begitu tepatnya konteks pembicaraan tersebut; mengacu pada sejarah Bandung sebagai pemacu senirupa modern ('Barat').


 

 
© 2010 Langgeng Gallery