DARI SEJUMLAH AKSARA ARAB-ARAHMAIANI
SENI RUPA-MAJALAH TEMPO
PUBLIK seni rupa mengenal Arahmaiani sebagai seorang perupa yang terbang dari satu Negara ke Negara lain untuk memenuhi undangan penyelenggara peristiwa seni rupa “Aku ini TKI (tenaga kerja Indonesia),”ujarnya bercanda. Ia mengibaratkan dirinya daun kering yang terbang dibawa embusan angin.
Kini daun kering itu menggelar pameran di bekas kampus Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta yang sedang dipoles menjadi Jogja Nasional Museum. Pada pameran bertajuk Slow Down Bro…! ini, hanya saat acara pembukaan Yani, panggilan akrab Arahmaiani, menampilkan seni pergelaran (performance art), Kamis pecan lalu. Selebihnya, ia memamerkan karya lukis, foto, instalasi, dan video art hingga pameran berakhir pada 20 Juli.
Sejak masuk ruang pameran, pengunjung sudah disuguhi karya yang dekat dengan kehidupan yang berbau aktivis. Ada jejeran karya foto yang merupakan hasil jepretan atas karya seni pergelaran yang ditampilkan di Sidney pada tahun 2007, di Shenzen (Cina Selatan) pada tahun 2007, dan di Candi Borobudur (Jawa Tengah) pada 2008. Ada bendera dalam berbagai warna cerah dengan tulisan beraksara Arab, Cina, dan Inggris: Nyali, akal, kebijaksanaan, kebahagiaan.
Tapi ada juga spanduk bertuliskan nama-nama perusahaan multinasional yang menguasai pasar dari Negara maju hingga Negara miskin. Perusahaan itu antara lain Toyota, Coca-Cola, dan Medonald’s yang ia tulis dalam aksara Arab gundul.
Dari sini wajah aktivis Yani, 37 tahun, muncul dalam warna menyenangkan.”Pada situasi sekarang system ekonomi pasar telah menyedot kita kedalam budaya komsumtif.” Ujar Yani. Toh, ia mengaku pernyataannya bersifat netral, tidak menentang, tidak juga seprti kegiatan promotif. Ia tak provokatif dengan sikap hitam putih yang garang seperti karya seniman kiri, “Sikap yang ambigu,” katanya.
Dengan cara yang menyenangkan mata, Yani juga membuat parody yang menyoroti kuasa globalisasi dan hegemoni Amerika Serikat dalam politik sejagat. Lewat karya lukis, ia meminjam sosok kartun buatan Hollywood, semacam sosok Mickey Mouse, kucing Tom, dan tikus Jerry. Yani mendandani sosok Mickey Mouse dengan pakaian penari Bali dengan Tulisan “Viva Globalisasi”, sementara si kucing Tom yang mengenakan pakaian berpola bendera Amerika lari ketakutan dikejar si tikus Jerry yang mengenakan topeng pria berewokan dengan topi hijau berlogo bulan bintang. Ia seperti sedang mengejek kekonyolan Amerika dalam melihat wajah Islam.
Yani mengaku tidak sedang menghardik globalisasi, kapitalisme, atau hegemoni Amerika. “Saya tak mau masuk kepenilaian salah dan benar.” Katanya. Ia Cuma bias mengatakan globalisasi dan kapitalisme itu menyebabkan dehumanisasi.” Globalisasi meletakkan Negara lemah menjadi budak Negara yang kuat secara ekonomi,”katanya.
Tapi, dengan ekspresi semacam itu, Yani menuai masalah. Ia pernah disekap tentara selama sebulan di satu bangunan jalan Sumatera 37, Bandung. Bangunan ini tak punya plang nama, tapi dikenal aktivis mahasiswa sebagai kantor badan intelijen. Pasalnya, Yani menggelar seni penggelaran dalam rangka memperingati 17 Agustus dengan menggambari aspal jalanan Kota Bandung dengan kapur tulis pada 1983, “Padahal aku Cuma menggambar tank dan senjata.:” katanya. Kala itu Yani mahasiswa seni lukis Institut Teknologi Bandung. Ia pun dipecat.
Senjata dan tank juga muncul pada sejumlah karyanya berupa drawing bertarikh 1998. Karya yang juga dipamerkan dalam pameran ini menggambarkan kerusuhan 1998 di Jakarta, ketika massa menjarah dan membakar pertokoan. Tapi ia menggambarkan keriuhan yang beringas itu dengan kesunyian yang mencekam. Ada satu gedung bertingkat dengan asap mengepul. Di bagian bawah, satu tank mengarahkan moncong meriamnya kearah bangunan itu, dan ada sosok yang tergeletak di bawah bayangan gedung. Orang hanya bisa menduga sosok yang tergeletak itu mungkin akibat keberadaan tank di situ. Di langit ada awan hitam menggantung seperti menyelimuti teka-teki. Sekali lagi Yani berada di wilayah abu-abu.
Yani juga pernah dinyatakan halal darahnya oleh kelompok Islam garis keras karena dituduh menghina Islam pada 1994 lewat karya bertajuk Lingga Yoni. Karya lukis dengan cat akrilik di atas kanvas ini sejatinya secara estetis sangat sederhana, berupa bentuk penis dalam warna merah dan vagina dalam warna hijau. Tapi dua citraan itu diimbuhi latar deretan huruf Arab. Inilah yang membakar kemarahan.
Yani adalah sosok yang “mendua”. Ia lahir dari latar belakang orang tua yang kuat menganut syariat Islam di Bandung.”Ayahku Islam kanan,”katanya. Maka ia paham ajaran Islam dan ia bias menulis dalam aksara Arab Melayu. Tapi ia punya pikiran yang berbeda dalam melihat Islam, khususnya dalam kacamata kebudayaan. Dalam pikirannya, wajah Islam tak harus seperti Islam di Arab. Islam di luar Arab telah berinteraksi dengan kultur local.”Tak ada yang salah soal ini,”katanya.
Maka, ketika ia diundang dalam festival seni pergelaran di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2006, Yani menulis kata Allah dalam aksara Arab pada satu piring. Ia pun meminta penonton menuliskan sesuatu yang penting bagi mereka di atas piring lain. Piring-piring itu kemudian dilempar, termasuk yang bertuliskan kata Allah tadi, dan tentu saja pecah.
Yani menghina Islam? Salah satu karyanya yang juga dipamerkan dalam pameran ini berupa karya seri foto. Ada tiga foto Quran dengan teks dalam bahasa Arab dan terjemahan bahasa Belanda yang menampilkan teks surat AL Ahzab. Di atasnya ada citraan telapak tangan yang dicoreti kata-kata puitis dalam bahasa Indonesia.”bulan bersinar di malam… cahaya terpendar dalam…sampai kapan aku harus…” Bagi Yani,lewat karya yang mengusung teks Quran sekalipun, atau hanya sekesar menderetkan hurufArab, ia ingin menegaskan sikapnya bahwa Islam punya banyak wajah.
Yani tidak menuliskan ayat Quram pada karya-karya lukisnya itu. Ia hanya menuliskan huruf Arab, sebagaimana orang Arab menulis sesuatu dalamm aksara Arab di atas medium apa saja. Perlakuan Yani terhadap aksara yang terlanjur dianggap sacral itu. Perlakuan ini sejalan dengan sikap Yani terhadap keragaman wajah Islam. “Ada wajah Islam yang garang di Arab dan Afganistan, tapi Islam di negara lain berwajah damai.” katanya.
Kegarangan Arab itu pun ia lembutkan lewat karya instalasi berupa bantal dalam warna menyala berukuran jumbo yang berbentuk huruf Arab. Huruf-huruf Arab itu menjadi nyata, bias disentuh, dielus. Dua bocah pengunjung pameran merasa nyaman tergolek di atasnya dengan damai tanpa merasa diburu perasaan berdosa.
Raihul Fadjri
|