Langgeng Gallery
 

Pameran Tunggal Arahmaiani

Jalan Seni “Gajah Yang Sunyi”

Namanya Arahmaiani: sebuah nama yang berasal dari khazanah Islam-yang harfiahnya berarti “berkah ganda”. Tapi orang-orang memanggilnya dengan sederhana dan mesra:lani. Dalam kehidupan sehari-harinya, ia memang sederhana.

Tapi, sejatinya ia bukan perempuan biasa. Ia seorang perupa tangguh bereputasi internasional. Ia seorang penulis kritis yang akan mengingatkan penulis kritis yang akan mengingatkan kita pada Oriana Fallaci, perempuan wartawan yang menurut Goenawan Mohammad, terkenal karena ucapannya yang suka menembak seperti pistol.

Demikian, dalam setiap forum seni rupa di dalam dan luar negeri, ia memikat perhatian public dengan karya-karya seni rupa yang berkehendak melakukan glorifikasi terhadap kekuatan esensial perempuan terletak di dalam tubuhnya.

Dengan kepercayaan itu, kebanyakan karya seninya bermaksud menyerang pandangan dikotomis dan hierarkis oposisi biner tentang tubuh ditempatkan di bawah jiwa-dan berkehendak menempatkan kembali tubuh sebagai  harga diri perempuan dengan  nilai moral dan tabu seksualitas.

Salah satu contoh yang pas  dari kehendak itu dapat kita menemukan dalam karya performans Arahmaiani  yang bertajuk Dayang Sumbi: Menolak status Quo (1999) – yang tak hanya mengambil Dayang Sumbi, tokoh perempuan legenda Sunda, sebagai ikon dan majas subordinasitas perempuan , tapi juga “menyuguhkan” tubuhnya sebagai “medium”bagi penonton untuk memikirkan kembali arti ketelanjangan dan seksualitas tubuh perempuan.

Dengan kehendak semacam itu, tak pelak lagi, aktivitas seni rupanya adalah sederetan risiko yang menyeretnya berhadapan dengan apparatus Negara: birokrat kampus, tentara, polisi,petugas imigrasi – dan kelompok-kelompok masyarakat “penjaga moral” disuatu Negara . Pada 1983, ia depak dari kampus, Institute Technology Bandung, setelah sebelumnya disekap selama sebulan oleh “Intel Melayu”, karena “mengejek” peralatan militer, tank dan senjata, dengan kapur tulis di aspal jalanan Kota Bandung. Pada 1994, sepotong lukisannya bertajuk “Lingga Yoni” telah meledakkan amarah sekelompok Islam garis keras dan mengancam nyawanya. Pada 2002, beberapa bulan setelah peristiwa 11 September, ia diusir paksa keluar dari Negeri Paman Sam oleh aparat keamanan AS yang cemas sangat dengan apa yang disebut “terror” Islam. Pada 2004, seorang penonton Melayu-Muslim yang tersinggung dengan performans Arahmaiani, yang dianngap melakukan profanasi nama tuhan Islam di atas sejumlah piring yang dihantamkan ke dinding sehingga pecah berkeping-keping, telah memaksanya keluar dari Kuala Lumpur.

Itulah sederetan risiko yang telah dilalui Arahmaiani dalam perjalanan seninya sepanjang hamper tiga dasawarsa terakhir. Alih-alih mengelucak semangat atau melemahkan energi kreatifnya, risiko itu justru mematangkan dirinya sebagai perupa yang memiliki semacam “Aura darma bahadura.” (Aura of heroic commitment) kepada praktik seni rupa yang sepi pamrih dan berpihak kepada khalayak luas dan bukan sekedar untuk kalangan terbatas saja.

Aura semacam itu, saya kira, berasal dari warisan pemikiran filsuf Walter Benjamin tentang “Estetika penyelamatan” bahwa seni harus dilakukan secara eksoteris dan didasarkan pada praktik yang lain, yaitu politik, aktivitas seni rupa Arahmaiani tak dapat menghindar dari kekuasaan agama, budaya, sipil, dan birokrasi yang di negeri ini masih gampang tersinggung dan menggaruk sana sini

Kini pada umur 47 tahun, ia menggelar sebuah pameran tunggal bertajuk “Slow Down Bro….!” di Jogja National Museum, bekas kampus Akademik Seni Rupa Yogyakarta, Jalan Amri Yahya Nomor 1, Gampingan, Yogyakarta, 3-20 Juli. Pada hemat saya, pameran ini adalah ikhtisar semenjana untuk menelusuri jejak langkah seni Arahmaiani lewat sejumlah rekaman fotografi, seni video, instalasi, dan lukisan. Disini, kita akan melihat setidaknya tiga jejak penting dalam perjalanan kreativitas Arahmaiani.

Jejak pertama adalah jejak perlawanan. Kita bias mendapatkan ilustrasinya yang menarik dalam video seni berjudul ”I Don’t Want to be a part of your legend” yang dari judulnya saja sudah menyuratkan kehendak perlawanan Arahmaiani untuk menolak menjadi bagian dari legenda patriarkat yang menempatkannya sebagai “si tertuduh”, entah sebagai perempuan atau manusia yang beragama Islam.

Saya kira, itulah alas an mengapa ia begitu bersemangat menggelar performans “Human love” dan “Berghuis” sebagai salah dua bentuk persuasi estetis tentang hakikat kemanusiaan perempuan dan orang Islam. Bahwa perempuan dan orang Islam. Bahwa perempuan adaalh mahkluk cinta yang menolak segala bentuk keekrasan dengan dalih apapun , termasuk atas nama Tuhan Yang Maha pengasih, lagi Mahapenyayang.

Tapi, itu kesan saya, yang saya bias saja salah. Yang jelas, persuasi estetis itu, dalam hal ini perfomans bertajuk “Berghuis”, justru memancing perkara di ibu kota Negara Malaysia pada 2004. Tampaknya, karya tersebut terjebak dalam apa yang disebut filsuf Georg Lukas sebagai dilema etis, yaiutu terjadinya pertentangan antara maksud si perupa dengan respons public yang menyaksikan karya tersebut. Jebakan ini pula, saya kira, yang menimpa seni pergelaran Arahmaiani pada 1983, yang mengakibatkannya disekap “Intel Melayu” dan dipecat dari Kampus Ganesha, Pun demikian dengan karyanya bertajuk “LinggaYoni”, yang menyebabkan halal darahnya di mata sekelompok Islam garis keras 1994.

Jejak kedua adalah jejak melankolis yang tergurat dalam serial lukisan akrilik di atas kanvas bertajuk “Memory” yang bertitimangsa 2008. Dari sini kita akan menyaksikan siluet seorang perempuan berambut panjang dalam sapuan warna abu-abu yang sabur limbur dengan sesosok laki-laki dalam siluet hitam putih.

Siapakah laki-laki misterius itu? Saya tak tahu jawabannya. Tapi saya tahu pasti, melalui aksara Arab Pegon yang tergurat dalam lukisan berjudul “Memory No:1”, laki-laki itulah yang telah mengalihubahnya menjadi “beringin yang terkurung dalam sepi” dan “gajah yang terkukung dalam sunyi”. Menyaksikan serial lukisan itu, saya seprti menyaksikan sisi manusiawi Arahmaiani yang selama ini terbalut dalam citra heroiknya sebagai perempuan perupa sali dan mandiri.Apakah perjalanan panjang di medan seni rupa dan dunia sehari-hari yang penuh kegaduhan, seprti diperlihatkannya dalam serial lukisan arang di atas kertas berjudul “My Riots” (1998) dan usia yang makin menua, membikinnya terjebak dalam pesimisme melankolis?

Jejak ketiga adalah jejak subtil yang termasuk dalam serial lukisan karikatural di atas kanvas bertajuk “Viva Kapital”,”Viava Globalisasi” dan “Beyond God and Evil”, yang semuanya bertarikh 2008. Menyerap serial lukisan karikatural tersebut, saya beroleh kesan bahwa Arahmaiani hendak mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan cara halus untuk  mengajak penatap merenung sembari tersenyum tentang globalisasi, kapitalisme dan persepsi barat terhadap Islam saat ini.

Sekalipun tak orisinal, serial lukisan tersebut berhasil memeprlihatkan kepada kita sosok lembut Arahmaiani sebagai “bricoleour”. Ini adalah sebuah konsep antropologis yang dating dari Claude Levi-Strauss, yang arti harfiahnya adalah orang yang mengerjakan segala sesuatu dalam hal ini menghasilkan karya seni dari sesuatu yang sudah ada.

Seperti kita tahu, Mickie dan Mini Mouse, Tom dan Jerry, adalah tokoh tokoh kartun ciptaan Walt Disney yang telah melegenda di seantero dunia, dirias ulang oleh Arahmaiani, anatara lain dengankostum tradisional Bali dan Jawa, bukan untuk merayakan dengan gempita globalisasi dan kapitalisme  di Indonesia, melainkan untuk menyindirnya dengan riang. Apa boleh buat. Bahkan ideology besar seperti sosialisme sekalipun, tak mampu mengalahkan kapitalisme yang membonceng globalisasi untuk menggurita di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Tapi disinilah saya kira, kita menemukan paradoks dalam pameran Arahmaiani kali ini. Pada satu sisi, ia mengkritik halus kapitalisme dalam spanduk beraksara Arab gundul perusahaan-perusahaan multinasional yang membuhul ekonomi dan industri di negeri ini. Pada sisi lain ia menggunakan perangkat tehnologi, antara lain televise merek LG dan monitor merek Apple untuk memutar rekaman sejumlah seni pergelarannya dalam pameran ini.

Tapi, boleh jadi kenyataan tersebut bukanlah sebuah paradoks bagi “gajah yang terkungkung dalam sunyi” ini, melainkan sebuah kesengajaan uang menguntungkan dalam pameran ini.

Esais adalah curator seni rupa tinggal di Yogyakarta.

Suara Merdeka - Bianglala

 
© 2010 Langgeng Gallery