Langgeng Gallery
 
Who are we Where are we Gallery's Biography Profile of Our Founder Other Essays

Dengan Dr Oei Hong Djien dan John Bergheuis

Bengkel Kerja Seni Rupa Kontemporer, Studio Budaya dan Galeri Langgeng bisa dikatakan hanya bermodal optimisme semata. Aset perusahaan, kalau mau dibilang begitu, mula-mula hanya terdiri dari kecintaan terhadap seni rupa, serta tekad untuk melakukan sesuatu bagi dunia seni Indonesia, tak peduli betapa kecilnya pun yang bisa kami sumbangkan nantinya.

Sebelum sampai pada keputusan untuk membangun Galeri Langgeng, saya telah beberapa lama menjadi kolektor kecil-kecilan -- mengumpulkan karya-karya lukis dan patung yang saya sukai secara pribadi, dan memamerkannya pada relasi serta teman-teman yang kebetulan mampir ke rumah. Dalam beberapa tahun saja, koleksi pribadi ini sudah membengkak jumlahnya, hingga memerlukan sebuah gedung tersendiri.

Dari pengalaman pamer di lingkungan teman-teman sendiri itulah saya memperoleh gagasan untuk membangun sebuah galeri seni rupa untuk umum. Teman-teman yang punya minat terhadap seni rupa menyemangati saya untuk jalan terus dengan pelaksanaan ide itu, dan saya sependapat dengan mereka bahwa Magelang akan kian kaya dengan dibukanya arena seni semacam itu.

Kota Magelang sendiri hanyalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah, dikelilingi pedusunan dan perkebunan. Suasananya cocok untuk bersantai, iklimnya sejuk, laiknya wilayah pegunungan di pulau Jawa. Orang-orangnya juga seolah keluar dari brosur-brosur pariwisata; mereka ramah dan mudah bergaul.

Barangkali karena itulah teman-teman dan kenalan-kenalan saya yang tinggal dan bekerja di kota-kota besar sering 'melarikan diri' ke Galeri Langgeng.

Galeri Langgeng dekat sekali dengan situs keramat Kyai Langgeng dan Taman Langgeng yang menjadi ciri kota Magelang. Lokasi yang sangat hoki, kata sebagian orang. Dari sanalah saya mendapat nama 'Langgeng' -- sebuah kata dalam bahasa Jawa (yang diserap ke dalam bahasa Indonesia) yang berarti 'abadi', 'selamanya'.

Namun, terus-terang saja, dulu saya tak berani berharap bahwa Galeri Langgeng akan hidup lebih lama dari acara pembukaannya.

Betapa tidak; memang di seluruh Jawa Tengah hanya ada sejumlah kecil galeri seni rupa, tetapi di Yogyakarta, yang sangat dekat dengan Magelang, ada banyak galeri yang aktif dan mapan. Bagaimana pun, saya juga belum pernah mengelola galeri; pengalaman saya hanya di bidang manajemen keuangan dan sejenisnya. Belum lagi seniman termasuk orang-orang yang unik dan tak bisa berhubungan baik dengan sembarang orang yang bukan seniman.

Dan lebih lagi, galeri ini akan harus saya topang dengan sumber-sumber keuangan pribadi, yang serba terbatas. Mau tak mau terlintas pikiran, apakah manfaatnya lebih besar dibanding aset yang harus ada? Bagaimana kalau suatu hari kelak sumber-sumber saya itu habis 'termakan' kegiatan seni rupa ini tanpa ada gantinya?

Namun saya sisihkan segenap kekhawatiran itu dan memutuskan untuk maju terus.

Akhirnya, pada tanggal 11 Maret 2002, Galeri Langgeng resmi dibuka untuk umum.

Saya mengundang Sutanto, pemusik dan seniman terkemuka di Magelang, untuk hadir pada malam pembukaan itu. Sutanto adalah salah seorang 'suporter' Galeri Langgeng sejak berdirinya, justru karena dia selalu mengkritik cara kerja saya!

Kini Galeri Langgeng masih ada, dan masih terus menggelar acara-acara kesenian. Selama itu, saya jadi kenal lebih banyak lagi sosok-sosok budayawan/budayawati, seniman/seniwati, para pemikir, kurator, para manajer galeri, dan sebagainya. Saya berusaha untuk belajar dari mereka semua.

Adalah harapan kami agar Galeri Langgeng bisa terus mewadahi kegiatan-kegiatan kesenian Indonesia dan mancanegara, mempertemukan para seniman, kurator, kolektor, dan pencinta seni, di masa mendatang.

Selamat datang di Langgeng.

Deddy Irianto
Founder/Director/Curator of Langgeng Gallery

With Angel and Xu Tan
With Tu Zhiwei
With Xu Weixin
Goenawan Mohamad in Langgeng
China International Gallery Exposition 2007
Dr Oei Hong Djien dancing at Langgeng
With Lu Hao
With Lu Xiadong and Yuhong
With Fang Lijun
With Lu Hao and Kwee Liong Keng
With Chua Ek Kay
 
© 2012 Langgeng Gallery