|
Suatu ketika di pertengahan’70-an, saat masih berstatus sebagai mahasiswa seni rupa di Yogya, Harsono pulang menjenguk ayahandanya. Orang tua itu baru saja bebas dari tahanan penjara satu tahun. Pasalnya, oleh serangkaian peristiwa yang lebih bersifat kebetulan, ayahnya pernah dianggap terkait dengan seorang tokoh paranormal “berbahaya” di kota kecil Ponorogo (Jawa Timur). Orang-orang nasionalis “baru” yang dicap kekiri-kirian, kebetulan beberapa adalah pelanggan tokoh karismatik itu. Agaknya, di semua tingkat, hubungan antara politik dan praktek paranormal tidaklah mustahil. Sudah barang tentu, ayahnya tersangkut.
Di saat pulang ke Blitar itulah ia menemukan kembali sejumlah album foto lama di ruang tamu. Di antara tumpukan album foto keluarga, ia menemukan foto-foto yang paling menarik perhatian. Jumlahnya sekitar delapan puluh lembar. Foto-foto hitam putih itu menggambarkan upaya sekelompok orang untuk melakukan penggalian kembali jenasah yang sudah lama tertimbun tanah. Mereka adalah orang-orang Cina yang menjadi korban peristiwa yang agaknya merupakan pembunuhan massal, antara 1946-1948. Itu memang foto-foto bersejarah yang dibuat oleh ayahnya.
Ayahanda Harsono, Oh Hok Tjoe – kemudian berganti nama menjadi Hendro Subagio- adalah seorang juru foto di Blitar. Sekitar awal 50-an sampai pertengahan 60-an ia memiliki studio foto “Atom”, studio paling ternama di kota itu.
Foto-foto itu agaknya terkait dengan keberadaan organisasi Chung Hua Tsung Hui (CHTH ) di Indonesia. CHTH adalah gabungan dari perkumpulan orang-orang Cina di Indonesia, baik yang sudah menyatakan diri sebagai WNI maupun yang belum (Tionghoa asing).
Pada 1951, perkumpulan ini memprakarasi upaya penggalian dan pendataan kembali para korban pembunuhan massal orang-orang Cina di sejumlah kota di Jawa. CHTH –melalui cabangnya di berbagai kota di Indonesia- berupaya menyusuri identitas para korban pembunuhan yang berlangsung selama tahun-tahun kekacauan itu. Mendata jumlah korban, menghubungi anggota-anggota keluarga yang masih berupaya mencari dan mengingat, lalu menguburkannya secara layak. Ayah Harsono ada di dalam upaya-upaya kemanusiaan kelompok ini.
Peristiwa perjumpaan Harsono dengan foto-foto itu sudah lewat sekian puluh tahun. Suatu saat ia sadar bahwa foto-foto itu adalah dokumentasi sejarah yang teramat berharga untuk dilupakan begitu saja. Ia menyimpan baik-baik album foto itu, seakan lebih bernilai daripada foto-foto dokumentasi keluarganya sendiri.
Di masa tak menentu setelah tumbangnya pemerintahan Orde Baru, sejumlah pertanyaan yang selama ini seakan hanya menjadi persoalan pribadi, mulai muncul di kepala Harsono. Ia selalu teringat lagi akan foto-foto lama yang dikerjakan ayahnya. Ini diakuinya sama sekali tak ada kaitan dengan rasa dendam terhadap rezim yang pernah memenjarakan ayahnya. Maka, album foto yang sekian lama menumpuk di ruang tamu rumah lamanya di Gang Tjoe Tin, Blitar itu, kini seakan meninggalkan sebuah pekerjaan rumah baru bagi Harsono.
Upaya Harsono untuk menengok kembali sebagian masa lalunya, latar belakang keluarga, pengaruh macam-macam pendidikan, bahasa dan lingkungannya di masa kecil adalah keinginannya untuk memahami atau mengenali lebih jauh problem-problem identitas dirinya.
Di pameran tunggalnya ini, Harsono menampilkan sejumlah karya yang merupakan hasil pengamatan dan renungannya terhadap problem-problem semacam itu. Menyangkut identitas peranakan, budaya campuran, praktek kekerasan dalam sejarah “yang lain” di suatu masa di Indonesia, dan sebagainya.
Ia mempersoalkan ini semua dalam kaitan dengan isyu-isyu identitas yang menjadi pokok perhatiannya semenjak 1998. Tahun itu, setelah jatuhnya Orde Baru memang mengubah modus dan pokoknya dalam berkarya.
Lebih kurang enam puluh tahun sudah berlalu, sejak ayahnya almarhum, bersama kelompok Chung Hua Tsung Hui melakukan upaya penggalian dan penguburan kembali tulang-tulang berserakan itu.
Di usia yang lebih tua dari ayahnya, belum lama ini Harsono datang ke tempat para korban yang sudah dimakamkan dengan layak. Mereka memiliki nama-nama sebagaimana mereka dulu diberi nama. Kubur mereka bisa dikunjungi oleh sanak saudara mereka lagi. Diri dan nama mereka dikenang. Mereka bukan lagi korban anonim, tapi korban dengan nama-nama. Jumlah seluruhnya191 nama.
Ia bersua dengan orang-orang setempat yang kini dengan berani menunjukkan lokasi pembantaian. Mereka tahu, pernah ada orang-orang yang dibantai di suatu ketika, pada suatu tempat. Dan pada hari yang lain, ada sekelompok lain melakukan upaya “ndudah”. Mereka mengisahkannya kembali dengan ingatan-ingatan yang masih ada. Ya, apa lagi kalau bukan merangkai kisah, untuk waktu yang sudah lewat, untuk jejak peristiwa yang selalu nyaris terhapus?
“Apa yang penting dalam sebuah kisah, apa yang benar di dalamnya, bukanlah orang-orang, benda-benda atau plotnya, melainkan hubungan-hubungan di antara orang-orangnya”, kata Bateson.
FX Harsono belajar seni rupa di STSRI “Asri’, Yogyakarta (kini Institut Seni Indonesia, 1969- 1974), dan Institut Kesenian Jakarta, Jakarta (1987-1991). Ia kini menjadi pengajar di Universitas Pelita Harapan, Tangerang (Jawa Barat), dan tinggal di Jakarta. +++
Hendro Wiyanto
|