|
Mengapa di 'kick!'?
Pada pertengahan tahun 2008 lalu ketika seni rupa kontemporer mulai menjadi primadona dunia seni Indonesia, di sebuah galeri yang baru saja buka dikota Bandung. digelar sebuah pameran kelompok perupa yang baru lulus. Disanalah beberapa karya para perupa -yang sekarang bagai bunga bermekaran- mulai terlihat. Tapi di Galeri Soemardja-lah saya mengenal karya-karya Tommy Aditama Putra pertama kali. Ada tiga karyanya yang saat itu sedang digarap, semua potret dengan drawing hitam-putih bercampur kebiruan ditambah nuansa coklat-sepia di atas kanvas.
Yang menarik, tiga gambar wajah dari sosok yang saya kenal baik itu tampak lebam. Hanya dua saja yang masih dikenali, potret Aminudin T.H. Siregar dan Asmudjo Jono Irianto (keduanya kurator sekaligus dosen), sedangkan Tisna Sanjaya tingkat luka-lukanya lebih radikal, wajahnya hampir tak dikenal akibat bengkak di sekujur wajahnya. Seri gambar potret dari Tommy ini diberi judul “Kick Tisna”, “Kick Asmudjo” dan “Kick Ucok” (Aminudin). Apa yang kemudian menjadi penting baginya, wajah seseorang di-‘hajar’ atau di-‘kick’? Sebuah pelampiasankah? Atau sebuah kiasan dengan lelucon kekerasan?
Mungkin banyak orang mengenal acara televisi “Kick Andy!”, Sebuah tayangan talk-show di sebuah televisi swasta nasional, yang dibawakan oleh seorang wartawan Andy F. Noya. Seperti sebuah pelesetan ataupun metafora, istilah ‘kick’ atau mungkin dalam bahasa pergaulan di Indonesia sebagai ‘tendang’ merupakan ungkapan untuk menandai seseorang. Dalam program televisi tersebut, Andy sebagai pembawa acara memilih orang-orang khusus yang mempunyai sepak terjang; karir, pencapaian atau prestasi maupun aktifitas seseorang yang luar biasa, yang jarang orang lain lakukan. Talk-show ini juga mengandung makna untuk menghargai apa yang mereka lakukan kepada pemirsa yang luas.
Sepanjang praktik seni rupa kontemporer di Indonesia, fenomena ‘menendang’ ini , sepengetahuan saya, pernah juga dilakukan oleh perupa Tisna Sanjaya dalam karya grafis-etsa era 1980-an, namun menggunakan kiasan ‘hajar’: “Menghajar Picasso”. Sebuah karya berwatak apropriasi dengan pelesetan dari karya maestro seni rupa abad 20, Pablo Picasso: “Guernica”, sebuah mahakarya yang diciptakan tahun 1937. Karya ini memperingati pemboman kota Guernica di Spanyol oleh Jerman pada perang dunia I. Karya Tisna pada “Menghajar Picasso” seolah memberikan makna berbeda tentang karya Guernica asli sekaligus sang penciptanya. Disini, Tisna menggunakan unsur-unsur dari karya Picasso yang membincangkan soal kekuasaan dan yang dikorbankan, secara kontekstual dengan keadaan masanya.
Karya Tisna “Menghajar Picasso” lalu mendapatkan reaksi dari perupa muda dan juga muridnya sendiri di FSRD-ITB; Aminudin T.H. Siregar atau Ucok dengan karya “Menghajar Tisna Sanjaya” tahun 1997. Alih-alih bahwa ungkapan ‘menghajar’ adalah suatu kata yang pendek namun mengena untuk menunjukan penghargaan dengan cara yang khas, alternatif, dan apalagi kalau bukan untuk kelangsungan ekspresi seni. Seperti sebuah kutukan yang datang di seni modern, tiap perupa mempelajari sesuatu hal dari para pendahulu, mengagumi, iri hati, cinta, mengkritik, berusaha melampauinya dan akhirnya menjadi dirinya.
Bagi Tommy, ‘menendang’ atau ‘kick’ bisa jadi bertujuan sama tapi dengan penggambaran yang hampir harfiah dan kemudian menjadi sebuah konsepsi dan strategi berkarya. Wajah-wajah yang lebam itu seolah mengalami luka akibat tendangan yang bertubi-tubi. Semua gambar hitam-putih agak kebiruan tersebut ia gubah melalui goresan arang, bercampur pinsil grafit diatas kanvas. Tapi sebelumnya mereka dipotret dengan kamera digital. Kemudian hasilnya digubah melalui perangkat lunak komputer menjadi lebam dan luka di bibir, pipi maupun pelipis. Bekas pukulan atau luka akibat tendangan dibuat seperti sesungguhnya dengan acuan foto-foto yang tersedia di internet.
Pada pameran “Bandung New Emergence Vol.2” tahun 2008, di Selasar Sunaryo Art Space –Bandung, Tommy membuat ‘proyek meng-kick’ tiga sosok perupa terkenal, Agus Suwage, F.X. Harsono dan R.E. Hartanto. Sedikit agak berbeda dengan tiga karya seri sebelumnya, kali ini Tommy membuat potret seluruh tubuh ketiga perupa tersebut. Tak hanya wajah mereka yang terkena sasaran kaki, tapi juga lengan dan bahkan pakaian mereka tampak kumal dan kusut. Terbayangkan mereka ditendang hingga tersungkur di tanah. Tommy menggambarkannya dengan arang secara tidak begitu realistik, goresan-goresannya begitu beragam dalam satu gambar. Luka-lukanya kerap ia gambarkan secara kesan dengan goresan lebih kasar dan kadang lebih hitam dibanding bagian tubuh lainnya. Mungkin pada bagian latar belakang objek digarap dengan intensitas yang sama.
Pada pameran tunggal pertamanya di Langgeng Icon –Jakarta ini, Tommy meng-‘kick’ wajah-wajah para perupa muda yang notabene adalah kenalan terdekatnya. perupa muda dari Kota Kembang yang sedang ‘naik daun’ seperti: Ariadhitya Pramuhendera, Wiyoga Muhardanto, Radi Arwinda, Tisa Granicia, Yusuf Ismail, Yogie Achmad Ginanjar, Cinanti Astria Johansjah, Willy Himawan dan lainnya, wajahnya lebam di beberapa bagian hingga sulit dikenali, namun mimik mukanya tampak tidak bergeming atau merasa kesakitan. Sebaliknya gestur tubuh dan tatapan mata mereka menunjukan sebuah perlawanan walau babak belur. Sebagian tangan mereka seperti hendak menahan tendangan yang akan ditujukan pada mereka. Tapi justru dengan watak potret yang kontradiksi seperti ini seri karyanya menjadi lebih menonjol unsur humor dibalik imaji kekerasan itu.
"Kick!" Foto - realisme Baru
Ada dua bagian utama penggambaran ‘kick’ ini, pertama adalah drawing potret dengan fokus pada wajah dengan tubuh se-dada. Potret mereka beragam tingkat luka-lukanya, Willy Himawan dan Andri Mochamad (Alm.) misalnya, tampang mereka remuk redam dengan bengkak dan memar yang radikal. Agak berbeda dengan lainnya yang hanya pada bagian tertentu saja yang mendapatkan bekas luka. Potret Radi Arwinda yang berwajah bulat dan gemuk hanya punya luka di bibir dan hidung seperti mengeluarkan darah. Luka-luka ini mirip seperti luka yang biasa ditemui pada petinju. Pada lebam wajah di Pramuhendra dan Wiyoga pun sama. Bagian karya yang lain adalah penggambaran dengan setengah atau seluruh badan dengan sikap duduk. Seperti tersungkur dan tersudut ditembok. Potret Pramuhendra, mempunyai luka dibagian tangannya, seperti luka menahan tendangan-tendangan keras.
Dalam meng-‘kick’ teman-temannya, Tommy selalu harus menggunakan kamera untuk memotret mereka, Ia telah membuat sketsa-sketsa dengan digital foto untuk bagaimana seharusnya mereka berpose. Seperti seorang sutradara yang mengatur para aktornya untuk berperan untuk menghasilkan adegan-adegan yang diinginkan. Foto-foto tersebut kemudian -dengan bantuan temannya- digubah dengan menambahi luka-luka secara komputerisasi. Potret digital hasil gubahan itulah kemudian ia angkat keatas kanvas dan kertas dengan drawingnya.
Teknik gambar Tommy menunjukan perkembangan menarik, kali ini Ia menggoreskannya ke atas permukaan kanvas atau kertas secara lebih sederhana dan efektif. Hal ini menunjukan sebuah perkembangan konsep dari sebelumnya, saat ini ia banyak membiarkan latar kanvas atau kertas seperti apa adanya, dan hitamnya garis-garis hitam yang kemudian membentuk struktur potretnya sebagai ruang positif. Oleh karena itu foto beserta gubahannya mempunyai peran penting dalam mengkonstruksi perilakunya dalam menggambar, dan garapan karya-karyanya bergantung dari keluaran sebuah alat cetak (printer) atau sorotan proyektor. Metode seperti ini juga dilakukan oleh para perupa kontemporer saat ini terutama ketika menyebut bentuk artistik foto-realisme maupun dijital realisme.
Proyek meng-‘kick’ teman-teman sesama perupa adalah suatu bentuk baru ungkapan personal terhadap mereka. Berbeda dengan generasi Tisna yang lebih tertarik pada tokoh-tokoh dengan sejarah yang besar. Generasi Ucok juga gemar dengan reaksi sesuatu yang “heroik” dan melihat pada narasi besar. Tapi kemudian Tommy memberikan makna terhadap lingkungan pribadi sebagai interaksi keseharian. Mengangkat potret teman maupun orang yang disekitarnya sebagai subject matter dalam karya-karyanya. Tentu saja sudut pandang pribadi terhadap mereka yang membuatnya memilih dan mengambil keputusan siapa dan bagaimana mereka akan diangkat sebagai imaji yang ter-‘kick’, serta mengapa ia mengangkat seorang teman hingga dua kali penggambaran dalam satu seri tersebut, sementara sisanya hanya digambar satu kali saja.
Tommy mengungkapkan: “ Meng-‘kick’ para perupa muda yang saya kenal dan berada di lingkaran luas saya sendiri atas dasar alasan menyukai mereka secara pribadi; baik dari segi karya-karyanya, attitudenya, sepak-terjangnya, prestasinya, dan sebagainya –dapat menjadi alasan subjektif saya pribadi untuk kemudian mengangkat mereka sebagai objek karya” .
Sebagai manusia sosial, hubungan pribadi dengan orang-orang sekitar tentunya punya banyak cerita. Apalagi dengan lingkungan komunitas di dunia seni rupa yang begitu dekat dan intim. Dalam praktik fotografi kontemporer hal ini juga dilakukan oleh para fotografer Amerika, seperti Anne Lebowitz yang memotret orang-orang disekitarnya sebagai suatu rekaman dari kehidupan pribadinya. Bahkan terakhir, Ia menerbitkan satu buku essay foto yang menggambarkan hubungannya dengan sastrawati Susan Sontag (Alm.), dari mulai mereka bertemu hingga beliau wafat. Hubungan Sontag dengan Lebowitz juga membuahkan pemikiran bagai sastrawati tersebut untuk menulis tentang fotografi. Bukunya On Photography (terbit tahun 1978) kemudian menjadi suatu buku acuan para pengamat seni dan fotografi untuk memahami praktik fotografi secara baru. Lebowitz bukan hanya merekam kehidupan pribadi dalam konteks voyeurism tapi juga menandai kehidupan pribadi sebagai bagian sejarah peradaban modern. Maka dalam tradisi seni rupa modern seperti yang dilakukan Modligiani, Picasso, Warhol, Chuck Close kerap menghasilkan karya-karya potret bukan hanya bentuk narsisime yang mengandung peneguhan diri secara eksistensial tapi juga cenderung menjadi sebuah pernyataan politis.
"Kick" Jalan Arang - Jalan Hitam-Putih
Praktik seni rupa saat ini mencatat bahwa drawing arang dan pensil sebagai medium alternatif bagi seni dua dimensional mulai banyak dilakukan perupa muda dan diterima oleh pemirsa. Kepopuleran drawing arang diatas kanvas dan kertas sebagai medium dimulai ketika perupa Pramuhendra secara mengejutkan menggunakannya sebagai idiom utama. Walaupun para pendahulunya seperti Agus Suwage, Tisna Sanjaya dan beberapa lainnya pernah juga menampilkan arang. Bahkan mungkin secara konseptual, medium arang digunakan secara lanjut dilakukan oleh Tisna Sanjaya, tetapi untuk pendekatan artistik foto-realisme justru generasi seperti Pramuhendra cukup berani untuk menampilkan drawing arang sebagai medium utamanya. Seperti juga halnya Tommy yang memang telah menabalkan diri untuk menempuh ‘jalan arang’ ini, dengan menggunakan arang (charcoal) dan pensil grafit.
Belajar dan lulus dari studio seni grafis ITB, Tommy memang terpengaruh -besar atau kecil- dari para dosennya. Tisna Sanjaya dan Aminudin Siregar / Ucok sebagai dosen telah membekalinya dengan ‘nature’ seni grafis mutakhir, alih-alih kekuatan estetik seni grafis membuat mereka fasih terhadap bahasa “hitam-putih” dengan garis dan juga teknik shading (usap manual), tanpa harus selalu melulu melalui alat cetaknya. Justru sensibilitas mereka terhadap persoalan konsepsi terasa begitu tajam. Keberhasilan menjadikan drawing arang dan pensil sebagai medium utama mungkin patut kita berikan penghargaan dalam praktik seni rupa di tanah air. Karena selama berpuluh tahun hanya seni lukis dengan cat minyak dan akrilik yang mendominasi dan dimitoskan pasar. Keparipurnaan drawing seolah memberikan jalan bagi banyak medium ungkap lainnya, tapi juga hal ini membuktikan bahwa ketajaman konsepsi seorang perupa menjadi lebih penting. Faktor ini pula yang membuat seni lukis kontemporer terus berkibar di pasar. Mungkin seperti juga fotografi hitam-putih, yang menjadi klasik dan abadi karena kesederhanaan namun juga punya dimensi yang unik serta jujur.
Kick! Benci tapi Rindu
Tommy, bagaimanapun salah satu dari sedikit perupa yang intensitas kekaryaanya telah menampakkan konsep foto-realisme baru dengan berbeda. Kick!, seolah melanjuti tradisi panjang melukis potret; mulai Leonardo da Vinci, Rembrant, Raden Saleh, Van Gogh hingga Chuck Close dan Agus Suwage dimana para seniman tak henti memaknai diri dan orang-orang yang dikenal secara langsung maupun tidak. Menyumbangkan nilai sejarah bagi peradaban masing-masing jamannya. Tommy seolah menorehkan tanda jaman dengan ambiguitas yang unik dan khas. Memberi makna baru secara pribadi untuk menghargai potret orang-orang yang ada disekitarnya dengan sebuah tendangan atau Kick. Dengan penggambaran orang-orang yang tersudut, babak belur namun tak ingin menyerah. Malah balik menantang untuk melawan.
“ Disinilah saya ikut berperan sebagai ‘penoreh’ sejarah. Generasi setelah saya akan dapat mengenali siapa Wiyoga Muhardanto, siapa Tisa Granicia, Tinton Satrio, Yusuf Ismail, dan lain-lain. Minimal, seorang Sio Sandrajaya pun membuktikan bahwa sudah menjadi peluang dasar bagi seorang perupa untuk dapat dihargai secara luas, namun di sisi yang sama, tidak semua perupa dapat memaksimalkan potensinya dan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik ataupun dengan cerdas.” ungkapnya.
Seri Kick karya Tommy membangun imajinasi yang penuh kebrutalan namun dengan intim dan puitik sekaligus politis. Merepresentasikan hubungan-hubungan ‘ benci tapi rindu ‘ terhadap pengalaman pribadi serta lingkungan sekitarnya, dengan menandai suatu sejarah bagi generasinya sendiri. Bisa jadi melalui potret teman-teman dan kenalannya, ia menjadikannya wahana atau sebagai suatu cermin diri untuk memahami dan mengartikulasikan ‘siapa aku’ serta posisinya dalam arena kesenian.
Rifky Effendy
|