|
Poskolonial Pop
“…Saya percaya tidaklah berlebihan mengatakan bahwa informasi histories yang terkumpul dalam bahasa Sansekerta tidak lebih berharga dari apa yang ditemukan dalam singkatan remeh yang digunakan di sekolah-sekolah TK di Belanda.” -Thomas Babington Macaulay dalam “Infamous Minute”. 1)
Frase-frase kategoris Timur dan Barat dipersoalkan secara kritis dan serta-merta disahkan lagi dalam karya-karya Nano Warsono. Ia mengaduk khazanah aikonik dari dunia dongeng di Timur maupun Barat, menilai kembali para pahlawan dan penjahat dari dunia fiksi, mencampurkannya dengan representasi sejarah, budaya dan mitos sampai ke karya seni adi. Pendek kata, semua citraan ini dianggap bisa mencerminkan -kalau tidak membongkar- representasi pandangan kaum esensialis mengenai Timur maupun Barat. Sang seniman bergeming pada suatu khazanah cerita-cerita besar yang tetap menjadi pangkal persoalan rumit sampai hari ini, tapi pandangannya menggayuh yang sehari-hari, yang sudah kita kunyah sebagai suatu bentuk glamour budaya pop. Apakah kategori-kategori kaum esensialis bahkan masih tertemukan tilasnya pada ranah pop semacam itu?
Ihwal ini tak jarang menjadikan karya Nano mirip “panel-tunggal-fiksi-sejarah bergambar”. Semesta gambar tentunya adalah semesta kisah atau bahkan representasi sejenis tuturan dari sang penggambar. Di dalam rumah pengisahan semacam itu sang seniman meracik gaya artistiknya sendiri, menjangkarkan bahasa dan idiom estetiknya pada salah satu ragam ilustrasi atau bentuk “seni” komik –atau sebutlah “novel grafis” kalau Anda mau- seraya mencari pemaknaannya melalui struktur lebih dalam dari hubungan-hubungan makna gambar/aikon penuh simbol itu sendiri. Semacam kohabitasi antara anasir fakta dan dongeng, rujukan real dan citra rekaan, sejarah dan imajinasi mempertaruhkan seni gambar Nano Warsono pada ranah kekontemporeran seni rupa yang lebih problematis. Apakah “panel-tunggal-fiksi-sejarah-bergambar ini ingin mengatakan bahwa soal pengisahan bahkan lebih penting daripada soal perupaan, dan tak akan ada perupaan apapun tanpa suatu bentuk pengisahan? Tapi jenis pengisahan apa yang ingin disampaikan oleh perupanya?
Nano Warsono menunjukkan alas cukup tebal bagi pandangan kritisnya sendiri mengenai apa yang disebut sebagai ranah-ranah paradigmatik Timur dan Barat. Dengan kening berkerut ia menulis seperti ini:
“Realitas dunia sekarang bagi saya, terlebih dunia Timur yang pernah dijajah/kolonial, banyak menginspirasi saya untuk menampilkan metaphor tokoh-tokoh dari dunia superhero/komik/film Barat maupun dari tokoh-tokoh fairy tales dunia Barat. (Realitas itu) menjadi isu-isu yang aktual yang dikaitkan dengan isu lokal maupun internasional yang sebenarnya bermuara pada pandangan yang skeptik Barat mengenai Timur dan sebaliknya…”
Bagi Nano, realitas kekinian di mana segala sesuatu terus dan terus menjagat, pun di aras tertentu masih mengasumsikan kita tidak bersifat kebal terhadap mitos-mitos keunggulan Barat terhadap Timur. Melalui pengalaman pahit sejarah penjajahan di masa silam yang bergaung sampai entah kapan, Barat yang “unggul”lah yang telah “menemukan” Timur dan makna Timur hanya dapat dipikirkan dalam kerangka induk sejarah yang telah ditemukan oleh Barat. Dan mereka yang menemukan sejarahlah yang akan terus menulis sejarah dan akan menuliskannya bagi pihak yang lain, yakni “sejarah-sejarah” yang tetap akan mengacu kepada satu “sejarah” yang unggul: Barat.
“Theoria” Keunggulan Barat
Kiranya kita boleh mengingat sejenak ihwal dikotomis sekaligus hegemonis semacam ini dalam rangka pandangan seorang filsuf. Dalam terang filsafat, induk semua budaya dan pengetahuan, cerita-cerita besar itu mungkin dapat
lebih terungkap dengan amat baiknya. Dalam suatu kuliah yang amat terkenal oleh Edmund Husserl (Vienna Lecture, 1935), “Timur” dan “Barat” diandaikan terbedakan begitu rupa oleh tujuan-tujuan filosofis yang berbeda aras, wawasan dan sasaran. Kata Husserl, sementara filsafat Barat menghasilkan apa yang disebut sebagai “wawasan teoritis yang absolut”, yakni yang boleh disebut sebagai “theoria (pengetahuan universal)”, filsafat Timur atau “filsafat oriental” hanya menghasilkan sifat “universal praktis” , filsafat yang “relijius mitis” . Filsafat “universal praktis”, katanya hanya terarah pada dunia yang terbiasa dengan yang “naïf” dan “sederhana-lugas”, sedangkan dunia sendiri hadir sebagai sesuatu yang “tematik” terarah ke “teori” (theoria), yang memungkinkan suatu praksis untuk meningkatkan derajat manusia melalui nalar ilmiah universal”. 2)
“Theoria” itulah yang merupakan sumur terdalam bagi suatu eksistensi, mengandaikan hadirnya sang subyek yang menyandang nama “cogito” (sang aku yang berpikir). Nah, seperti ditunjukkan oleh Foucault mengenai rasionalitas Barat, sesuatu yang tak terpikirkan dalam “cogito”, hanya menjadi sinonim bagi “yang lain”. “Yang tidak terpikir…tidaklah bersemayam dalam diri manusia seperti alam yang layu atau sejarah yang terbagi-bagi; dalam hubungannya dengan manusia, yang tidak terpikirkan itulah “yang lain”. 3)
“Yang tidak terpikirkan”, “sisa”, “peristiwa” dapat menggambarkan secara penting, “ketidaksesuaian antara keterbatasan jumlah subyek yang berpikir rasional dan ragam dunia yang tidak terbatas yang jauh melampaui kemampuan berpikir orang Barat. Diuji dengan jalan ini, kesadaran subyek Cartesian secara bersamaan dinyatakan sebagai tempat ketidakhadiran, penghilangan, pengeluaran dan diam. Subyek ini didiagnosis sebagai sumber kemiskinan epistemologi yang membentuk humanisme Barat. 4)
Tapi seperti apa persisnya keunggulan dan ketaktahuan Barat terhadap Timur sebenarnya? Apa yang dimaui oleh Timur terhadap Barat dan apa tanggapan Barat terhadap kritik “kemiskinan atau penyakit epistemologis di jantung rasionalitas” nya sendiri? Apakah “keunggulan”, darimana pun itu berasal, tak bisa dinikmati sebagai rahmat bersama, oleh kedua belah pihak? Apakah ada sesuatu yang salah dan bahkan asimetris dari wujud relasi Timur dan Barat semacam itu? Rupanya asumsi mengenai keunggulan suatu budaya dan aras filosofis mengidap hasrat penguasaan dunia, dan pada waktunya menjadi wujud epistemologi yang total atau absolut, “the world and the rest”. Di luar pandangan yang total, yang tersisa harus “dikosongkan dari makna”. Tulis Chakrabarty, dalam rangka seperti itulah hanya “Eropa” yang secara teoritis dapat dipahami; semua bentuk sejarah yang lain tak lebih adalah masalah riset empiris yang melengkapi suatu kerangka teoritis yang secara substansial adalah “Eropa”. Begitulah para sejarawan dunia ketiga terkutuk untuk memahami “Eropa” sebagai rumah asali dari dunia “moderen”, sedangkan sejarawan Eropa tak akan menanggungkan kesulitan yang tak terbandingkan yang terkait dengan masa silam bagian terbesar manusia. 5) Dan kelak anggapan-anggapan total tentang keunggulan “theoria” atau episteme Barat terhadap dunia “yang tak terpikirkan” akan menemukan representasinya yang paling benderang dalam praktik penjajahan atau kolonialisme Barat akan Timur.
Satu paragraf tentang praktik semacam itu adalah berikut ini:
“Kolonialisme menjajah pikiran sebagai pelengkap penjajahan tubuh dan ia melepas kuasa-kekuasaan dalam masyarakat terjajah untuk mengubah prioritas kultural mereka untuk sekali dan selamanya. Dalam proses tersebut, ia membantu menggeneralisasikan konsep tentang Barat modern dari sebuah entitas geografis dan temporal ke sebuah kategori psikologis. Barat saat itu ada di mana-mana, di Barat dan di luar Barat,dalam pelbagai struktur dan dalam seluruh pikiran.” 6)
Gagasan Chakrabarty adalah “mengudikkan” Eropa. Namun gagasan ini tak boleh menjadi suatu proyek mengenai relativisme kultural. Kata Chakrabarty, tak dapat dikatakan bahwa akal budi/ ilmu pengetahuan/ unsur-unsur universal (dunia) yang membantu mendefinisikan Eropa sebagai yang moderen semata-mata adalah “kultur-spesifik”, dan karena itu hanya milik budaya-budaya Eropa. Masalahnya bukanlah bahwa rasionalisme Pencerahan selalu tidak masuk akal di dalam dirinya, tapi lebih merupakan persoalan pendokumentasian, bagaimana setelah melalui proses-proses historis, “nalar” semacam itu yang tidak selalu swanyata bagi tiap orang telah sangat jelas melampaui dasar di mana nalar itu berasal... Proyek mengudikkan Eropa haruslah mencakup gerakan tambahan tertentu. Pertama, pengakuan bahwa akuisisi Eropa pada yang “moderen” secara ajektif bagi sendirinya merupakan suatu bagian integral dari kisah imperialisme Eropa di dalam sejarah global. Kedua, pemahaman bahwa penyamaan versi tertentu mengenai Eropa dengan “modernitas” bukanlah karya orang-orang Eropa sendiri; nasionalisme dunia ketiga, sebagai ideologi-ideologi utama yang memoderenkan, merupakan mitra yang setara di dalam proses itu.
Maka jika Barat ada di mana-mana, yang “tidak dimana-mana” tentunya hanya bisa menjadi subaltern alias berada di bawah penguasaan. Sejarahnya pun adalah sejarah subaltern. Tulis Chakrabarty lagi, sejarah semacam itu setidaknya mengandung dua gejala penyakit (symptom). Yang pertama, para sejarawan di dunia ketiga selalu merasakan kebutuhan untuk membuat rujukan pada karya-karya sejarah Eropa, sedangkan sebaliknya sejarawan Eropa tak pernah merasakan kebutuhan semacam itu. Gejala yang kedua, tampak pada paradoks sehari-hari dari ilmu-ilmu sosial dunia ketiga yang mendapati teori-teori (Barat) itu amat berguna untuk memahami masyarakat “kita” meski ada ketidaktahuan yang melekat dari pihak Barat kepada “kita”. 7)
Pikiran, sejarah, pengetahuan, episteme, theoria yang unggul dan total itulah mengganggap Barat mampu mendefinisikan Timur, melahirkan suasana kompleks dunia poskolonial berikut pandangan mengenai orientalisme atau Timur yang dibekukan.
Gambar dan obyek poskolonial pop Gambar-gambar dan obyek-obyek Nano Warsono merupakan himpunan petilan karakter dan pencitraan episodik dari khazanah komik atau dongeng, Barat maupun Timur, dari sejarah maupun mitos, dari dunia politik sampai keglamoran budaya pop. Hanya dengan mengamati cara sang seniman mencampurkan dan memperlakukan pencitraan dan narasi-narasi semacam itu, tempat dan pemaknaannya yang telah bergeser, relasi-relasinya yang berubah satu sama lain, dandanannya yang diparodikan, kita dapat membaca pesan-pesan kritis sang seniman. Pada karya-karyanya ini sang seniman tampak ingin meragukan posisi-posisi normatif yang bersifat sentral dan tetap, memertanyakan dan menilai ulang sesuatu arti stereotip seperti pahlawan-penjahat, kebaikan-kejahatan, pemenang-pecundang, keunggulan-keterpurukan. Selalu ada suatu cara kritis untuk menyela suatu paradigma budaya, menyusun kembali kepercayaan yang berlebihan terhadap apa yang dianggap menjadi dunia milik bersama, tapi itulah justru dunia poskolonial kita yang menurut Chakrabarty tetap saja mengandung “ketaksetaraan ketaktahuan” (“inequality of ignorance”).
Mirip rangka kerja sejarawan kontemporer yang tak percaya mahzab penulisan sejarah tertentu, yang terkungkung oleh apa yang disebut sebagai “fakta-fakta” sejarah besar seraya menepis semua kisah kecil yang berceceran di sekitarnya, Nano Warsono menghidupkan kembali dongeng dan mitos -mitos lama maupun baru- lewat imajinasi gambar, meracik kembali anasir-anasir pencitraan yang tak terepresentasikan dalam sejarah atau cerita besar yang telah dibakukan. Mengingat kembali pelajaran normatif yang telah diterimanya mengenai pembagian moral dalam sebentuk fiksi yang beroleh padanan dalam narasi historis, Nano menulis: “Sejarah selalu mengisahkan sisi baik dan buruk, kebaikan dan kejahatan dan tentu saja tokoh dan pelakunya pahlawan dan penjahat. Konstruksi sejarah selalu terbentuk atas pertarungan baik buruk,penjahat pahlawan, demikian dunia imajinasi kita, terutama bagi saya adalah film dan komik…. Di satu sisi pahlawan bagi kaum tertentu bias sebaliknya penjahat bagi kaum lainnya. Sebuah dunia yang tidak berujung pangkal pada pahlawan dan penjahat, konstruksi sejarah dunia memunculkan banyak yang dipahlawankan dan dipenjahatkan.
Gagasan di balik kepingan visual naratif yang diangkat dari representasi aikon budaya pop, dongeng, citraan mitos, dan sebagainya ini kiranya adalah wawasan kritis dunia poskolonial terhadap salah satu bentuk dominasi Barat terhadap Timur. Katakanlah sebagai “poskolonial pop”. Gambaran tentang keunggulan dan kepahlawanan ditampilkan sebagai sosok-sosok yang dominan, muncul dalam bermacam bentuk pertarungan atau persaingan, nyata maupun tersamar. Yang selebihnya adalah dunia “yang tersisa” berupa aikon-aikon ganjil yang seakan menyela, tetap eksis tapi tenggelam dalam kebesaran gambaran aikon-aikon para bintang. Mereka lebih mirip suatu alam yang disimbolkan, gambaran tentang dunia yang mistis, seperti sungai, danau atau ngarai yang misterius. Dari sana menyembullah binatang-binatang mitologis seperti ular naga yang seakan ingin ambil bagian dalam atribut pop masa kini.
Di tempat itulah misalnya sosok gadis Putri Salju mencuci sebentuk hati merah dari wajah Asia berjambul ala James Dean, aikon budaya pop Amerika tahun 70an. Hati besar yang dicuci di atas aliran permukaan sungai meminjam seraut wajah pinokio, bermata melotot. Tangan Dean palsu dibelit seekor naga hijau, dan tokoh kecil seperti badut mengarungi sungai, menunggangi seekor ikan koi, seakan penuh hasrat menyiduk kedalaman yang tak terpermanai. Itulah panel bertajuk “Bless my Heart in Asia”.
Citraan semacam ini telah dimaknai oleh senimannya sendiri sebagai “kesadaran akan memaknai ulang tentang budaya Timur dengan perspektif barat (yang) merupakan hal yang menarik dan penuh tantangan....menjadi korban yang berbahagia sekaligus menjadi saksi mata akan semua hal itu…”
Kalau bukan sejenis gambar ilustrasi untuk program kesehatan jantung, maka mungkin ini suatu cara dari sang seniman untuk menampilkan parodi-kritik terhadap suatu bentuk hegemoni peradaban, ataupun suatu ironi kritik diri. Tapi siapakah yang akan jadi penyembuh “penyakit epistemologis di jantung rasionalitas” Barat itu?
Spiritualitas “Timur” atau “Asia” tercitrakan oleh bola yinyang yang berputar di tangan sang biksu yang asyik ber-headphone dan aktor film laga legendaris yang telah mengubah wajah stereotip Asia, Bruce Lee. Adapun para jagoan seperti Ultraman mulai tenggelam dan Astro-Boy cuma jadi sebutir kacang. Para nabi pop memimpikan dunia tanpa paspor, minus agama, seakan-akan mereka (John Lenon, Yoko Ono, Jimi Hendrik, Elton John, Joe Ramone, James Brown, tercitrakan pada panel “Celebrating the New Moon” itu), adalah juru damai universal yang melampaui sekat-sekat Barat maupun Timur.
Tulis Nano Warsono: “Semua rangkaian gambar itu bagiku adalah sebuah perayaan dan harapan baru bagi Asia, memunculkan semangat lama yang telah tenggelam dan adanya harapan baru dimana setiap orang bisa berkomunikasi tanpa rasisme dan lain-lain, dan sentimen Barat terhadap Timur seperti contoh menggunakan yahoo ini......sebuah bahasa dan cara berkomunikasi secara universal yang lebih konkret....sebuah perayaan perdamaian”.
Lebih unggulkah rasionalitas ketimbang mitos, lebih ampuhkah dongeng-dongeng atau fiksi Barat dibandingkan cerita-cerita lokal, bersifat kolonialkah rasio dan sebaliknya, anti rasiokah mitos-mitos itu?
Penggambaran alur sungai, danau dan semacam latar ngarai yang menciptakan kesan misterius pada beberapa gambar Nano seakan menegaskan peran dan kuatnya unsur-unsur mitos yang memiliki makna mendalam bagi suatu budaya, seakan yang “dapat dipahami” maupun yang “tak terpikirkan”, keduanya akan bersama-sama tenggelam atau muncul kembali ke permukaan yang sama dangkalnya.
Begitulah Tuan Presiden negeri adi kini terpelanting dari kudanya, dan harus bertarung sengit melawan seekor singa jantan liar dalam perebutan harta karun pada panel bertajuk “Don’t Play with Life and Death, Berry” . Inilah gambaran yang dicuri dari adegan pertarungan hidup mati dalam sebuah karya masyur Raden Saleh, seniman Jawa moderen pertama yang hidup di dunia borjuasi Eropa di abad-abad yang silam. Gadis kecil Putri Salju berwajah manga melarikan gentong-gentong emas cair, memacu kuda lorengnya pada karya obyek “The Gold Army”. Sosok laki-laki kekar misterius menyembunyikan wajahnya ke dalam topeng tikus Mickey dalam “The Funny Conqueror”, mecangking boneka-boneka ajaib berkepala hati, semua itu digambarkan oleh Nano Warsono dalam obyek-obyek bersuasana mendua: kisah tentang penyelamatan dan penaklukan, misi perdamaian dan agenda-agenda tersembunyi di baliknya.
Narasi-narasi terpokok dunia poskolonial yang penuh dengan ketaksaan, kerumitan dan kedalaman wawasan politik- budaya kiranya masih dan akan terus menuntut rumusan tepat sasaran dan racikan yang sedap dalam berbagai representasi dunia yang lain. Dunia semacam itulah yang kini ingin digubah dan ditafsirkan kembali lewat panel tunggal-fiksi-sejarah-bergambar dan obyek-obyek trimatra, dengan selera eklektik dan gaya pop oleh Nano Warsono. +++ (Hendro Wiyanto)
DUNIA KOMIK DALAM KARYA NANO WARSONO
Nano Warsono mulai melukis sejak tahun 2002. Namun jauh sebelumnya ia sudah membuat karya patung dan drawing. Dengan latar belakang pendidikan seni tadisi ukir kayu Jepara ia memang menjadi sangat fasih dengan bahasa gambar dan ornamen selain garapan patung kayu. Ia juga sudah mengenal dan menggemari komik sejak masa kecil – bahkan ketika masih duduk di tingkat SMP ia sudah membuat sebuah komik. Demikian, menurut pengakuanya memang karya senirupa yang lebih dahulu dikenalnya adalah berupa komik. Tahun 1992-1993 ia ikut dalam projek Mural Kota dan Mural Sama-Sama. Bergabung dan bekerja dengan Apotik Komik menjadi sebuah titik tolak dan perubahan signifikan dalam langkah dan sikap berkarya yang dianutnya. Projek ini juga telah membawa ia bersentuhan langsung dengan budaya Barat ketika ia ikut berpartisipasi dalam proyek mural di San Fransisco.
Pada tahun1995 ia diterima di Institut Seni Indonesia lalu mengambil jurusan seni patung. Disanalah ia mengenal fine art dan memahami karya-karya para maestro. Namun walaupun demikian karya-karya para maestro itu tidak pernah merubah kekagumanya pada “keajaiban” komik. Baginya komik bukan saja karya seni rupa tapi juga merupakan media cerita serta ajaran kebaikan dan filsafat. Sehingga tokoh-tokoh komik seperti Superman, Batman, Spiderman, Puri Salju, Alice dari Wonderland ataupun Aladin lalu menjelma menjadi ikon- ikon penting dalam karyanya. Tokoh-tokoh tersebut dianggap bisa mewakili pemikiran atau falsafah pribadi yang ia ungkapkan dalam karya lukisnya. Dan cakupan perenunganya bisa melebar ke berbagai arah, mulai dari hal yang bersifat personal hingga persoalan sosial. Maka tak heran jika tokoh-tokoh tersebut terus bermunculan dalam karya-karyanya. Mereka muncul dalam cerita baru yang direka oleh si seniman seturut imajinasinya.
Tokoh-tokoh ini juga bisa menjelma menjadi tokoh berbeda sifat – seperti yang baik menjadi buruk atau sebaliknya. Maka Batman yang biasanya menjadi hero, selanjutnya dalam imajinasi si seniman diubah menjadi penjahat dan diberi sebutan “Badman” misalnya. Perubahan peran ini kadang dirasa perlu untuk memenuhi tuntutan narasi dan pemikiran yang ingin disampaikan. Begitulah jika seniman menganggap bahwa karya seni adalah medium untuk menyampaikan gagasan maka nilai-nilai baku bisa diubah dan kalau perlu dijungkir-balikan. Lebih lanjut bahkan ia mengatakan bahwa seniman itu berkarya bukan untuk sekedar mengolah keanehan tetapi untuk mengungkap kenyataan. Atau dengan kata lain ia mengatakan bahwa seni rupa itu bukan cuma permainan bentuk dan rupa belaka tetapi ada ide dan konsep yang melatari yang dirasa perlu untuk disampaikan. Dan hal ini dianggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting.
Dalam ranah penjelajahan konsep dan gagasan yang kemudian meluas kearah pemikiran-pemikiran budaya. Ia pun lalu berkenalan dan tertarik dengan buah pemikiran “Orientalisme” Edward Said maupun pemikiran dari tokoh kebudayaan Jawa Sosro Kartono. Pendek kata dari hasil pembacaanya ia berkesimpulan dan melihat situasi budaya yang tak seimbang antara yang disebut sebagai Barat dan Timur. Maka Barat diasumsikan sebagai elemen yang dominan dan memiliki kuasa untuk membentuk persepsi mengenai apa itu budaya Timur serta merepresentasikanya sesuai dengan kerangka tersebut. Tampaknya ia kurang setuju dengan keadaan tersebut dan ingin menawar serta mengkoreksi lewat kritik yang disampaikan dengan visual lukisan komik ataupun patungnya. Tak heran jika kemudian muncul tokoh-tokoh ataupun elemen dan warna yang diasosiasikan dengan Timur seperti Aladin ataupun figure-figur berwarna kuning maupun merah yang merepresentasikan orang Asia ataupun pribumi. Merekapun muncul bersamaan dengan tokoh-tokoh Barat dalam satu ruang dua dimensi.
Nano menganggap kisah Kingkong adalah representasi sangat tepat dan jitu yang menggambarkan dinamika hubungan dua budaya yang seakan terpisah dan bersebrangan ini. Baginya Kingkong adalah gambaran orang Timur dimata orang Barat yang memperlihatkan stereotype sebagai mahluk liar tak beradab dan tak tahu adat yang sangat mengerikan. Sekalipun memiliki kemuliaan karena ia mencintai si gadis Blonde dengan sepenuh hatinya. Namun walaupun demikian ia tetap saja berada dalam posisi nasib yang “salah” dan tak beruntung – ia tak pernah akan bisa bersanding dengan si gadis jelita itu dan akhir cerita memang begitu tragis karena setelah dengan sepenuh jiwa ia berusaha membuktikan cintanya lalu ajal menjemputnya. Itulah gambaran tragis-romantis hubungan Barat dan Timur dimata Nano Warsono – gambaran sesorang yang prihatin atas nasib dan posisinya yang dianggap sebagai hamba para tuan.
Memang tidaklah mengherankan jika ia sampai pada kesimpulan seperti itu. Ia memang menjelajah wilayah pewacanaan kritis berbagai bidang ilmu sehingga membawa ia ke dalam ranah non-seni. Segala upaya untuk memahami persoalan-persoalan globalisasi, kebangkrutan ekonomi global, maupun kerusakan lingkungan hidup misalnya memang akan membuat dirinya berkonfrontasi dengan kenyataan yang akan membuatnya prihatin. Ia juga akan “dipaksa” oleh keadaan untuk berkonfrontasi dengan diri maupun kelompok dimana ia menjadi bagian – ia akan harus mempertanyakan identitas maupun posisinya dalam “hierarkhi kebudayaan dunia”. Selain ia juga harus bisa mengartikulasikan proses serta pemikiran tersebut dalam karya. Semua ini bukanlah hal yang mudah – begitu panjang jalan yang harus ia lalui jika ingin menemukan dan memahami dengan sungguh-sungguh siapa diri dan makna praktik seninya.
Semoga saja ia tidak terjebak ke dalam “dunia hitam-putih” komik dimana sang tokoh hanya memiliki pilihan antara menjadi pahlawan dan penjahat. Tidak hanya mengkritik Barat dan lalu mengagungkan Timur. Sebab kehidupan ini penuh nuansa, ada banyak hal yang harus dicermati dan dipertimbangkan dengan bijaksana, Ada elemen penting dalam kehidupan yaitu orang-orang biasa (diluar tokoh-tokoh) baik di Timur maupun di Barat yang tak kalah penting kehadiranya dan harus ikut diperhitungkan. Srdangkan nilai-nilai kehidupan yang merupakan kekayaan budaya (entah dari Timur ataupun dari Barat) adalah sumbangan besar bagi umat manusia yang perlu dilestarikan dan disinerjikan. Jika kita tak ingin terjebak kedalam situasi meng”other”kan orang lain maka jelas kompleksitas kehidupan ini tidak bisa dibedah dengan kesederhana dunia hitam-putih dalam kerangka baik-buruk ataupun salah-benar.
Arahmaiani
Wawancara Nano Warsono
Oleh Rain Rosidi
Salah satu perupa Jogjakarta yang berkhusyuk pada pemetaan art scene Jogja yang digelutinya adalah Nano Warsono. Beberapa tahun yang lalu, dia bersama beberapa rekannya sibuk menggiatkan CCDocs, sebuah lembaga kecil yang mendokumentasikan kerja seni di jalanan. Ujungnya pada tahun 2008, Nano merintis penelitian yang menyeluruh atas praktik kerja seni rupa di jalanan yang didanai oleh hibah dari kampusnya ISI Jogjakarta.
Sebagai praktisi seni rupa, Nano mengawali kerjanya lewat karya patung dan komiknya. Nano lebih menyukai kerjanya disebut sebagai kerja ‘drawing’. Karya patungnya pun merupakan bentuk menggambarnya dalam bentuk tiga dimensi. Sangat terlihat, bagaimana Nano menyukai dan menguasai bahasa gambar. Beberapa komik yang dibuatnya tanpa disertai teks, karena bahasa visualnya sudah cukup kuat dan memuaskan baginya.
Kerja kolektif dan individu dilakukannya dengan semangat yang berbeda dengan dunia seni rupa Jogjakarta pada umumnya. Salah satunya adalah projeknya bersama Apotik Komik dengan ‘Mural Kota’ dan ‘Mural Sama-Sama’. Projek ini yang membawanya memasuki tataran medan seni yang lebih luas, termasuk menggarap mural di San Fransisco pada tahun 2003.
Dari dunia seni komik, graffiti, mural, dan patung, Nano memasuki pula wilayah seni rupa yang paling hangat dibicarakan, lukisan. Walaupun sebelumnya sudah pula melukis, dalam hal ini, Nano mengakui memasuki wilayah yang berbeda. Dia mengakui bahwa melukis adalah kegiatan yang sangat kental berurusan dengan dunia ‘professional’. Di situ dia mengalami negosiasi-negosiasi yang berbeda dengan audiens dan tata cara presentasinya. Nano mengakui perlunya kesiapan mental yang kuat untuk merambah dunia tersebut. Meskipun demikian dalam melukis pun Nano tetap menggunakan semangat ‘drawing’ yang dilakukan pada karya-karyanya yang lain secara sama.
Dalam semua karyanya, Nano tidak merasa cukup dengan hanya mengumbar teknik dan gaya menggambar. Aspek tema dan pernyataan pribadinya sangat perlu untuk tetap dihadirkan. Ketidak seimbangan hubungan budaya antara Timur dan Barat menjadi salah satu kegelisahan perupa Nano Warsono pada karya mutakhirnya ini. Nano menjelaskan mengapa King Kong muncul dalam kanvas lukisannya. Dia mengingatkan bahwa dalam film King Kong tersirat penggambaran bagaimana manusia barat melihat ‘orang lain’, yang liar, ganas, dan tidak berperadaban. Walaupun digambarkan dalam film itu, si King Kong mempunyai juga sisi luhur dengan mencintai si gadis blonde, tapi tetap saja raksasa itu akhirnya menjadi korban dan mati dengan sia-sia. Gadis blonde, binatang dari hutan, dan para pemburu, itu adalah tanda-tanda yang bagi Nano sengaja ditampilkan dalam bentuk ‘cerita yang lain’.
Nano mempertemukan tokoh-tokoh itu dengan para superhero dunia ‘barat’ seperti Batman, Spiderman, Superman, dan bahkan Alice in Wonderland. Di lukisannya juga muncul tokoh-tokoh dari timur, seperti Aladin dari cerita 1001 Malam. Nano membalikkan peranan karakter-karakter populer itu, sebagai cara dia mengkomparasikan ‘Orientalisme’ dengan ‘Oksidentalisme’. Nano seolah mempertanyakan kembali, siapa hero, siapa penjahat. Dan bagaimana hero pada satu titik bertukar peran dengan penjahat, seperti cara pandang orientalisme melawan oksidentalisme. Dengan menggunakan karakter dalam komik, dan jalinan adegan gambar yang ringan dan segar, Nano menyelipkan pemikiran-pemikiran Edward Said, Said Naseer dan bacaan-bacaan bertema orientalisme lainnya dalam lukisannya.
Sekilas melihat rumahnya yang juga sekaligus sebagai studio, anda akan tahu bagaimana Nano Warsono melibatkan dirinya dengan art scene yang digelutinya. Tembok ruangan dalamnya dipenuhi oleh grafiri dan mural yang dikerjakannya bersama teman-temannya. Di sebuah pagi yang cerah, saya mendatangi rumah sekaligus studio Nano Warsono itu di kawasan Jogja Selatan. Saya bersama Cyka yang bertugas merekam wawancara itu, disambut oleh istri Nano Warsono yang sedang bersiap pergi dengan sepedanya. Nano kami jumpai tengah menggarap sebuah lukisan besarnya di ruang depan. Kami lalu beramah tamah sembari mempersiapkan setting untuk wawancara.
Wawancara ini sudah kami agendakan beberapa hari sebelumnya. Sebelumnya saya sudah mengirim gambaran pertanyaan yang akan saya utarakan itu lewat email, padahal rumah kami berdekatan. Saya ingin tahu mengenai latar belakang berkarya seniman ini, sekaligus apa yang sedang dikerjakannya sekarang ini. Berikut ini petikan wawancara tersebut, yang selanjutnya saya menyingkat Rain Rosidi menjadi RR, Nano Warsono menjadi NW, dan tambahan Cyka, sang dokumentator yang juga sempat ikut bertanya, menjadi CYK.
RR: Kita tahu kalau kamu dari Jepara, kira-kira ada nggak korelasinya dengan dunia kesenirupaanmu?
NW: Sedikit banyak ada, tetapi kalau secara spesifik tidak terlalu kentara, karena lingkungan seni yang ada di Jepara dengan sekarang (aku jalani) amat berbeda. Nggak banyak korelasinya! Kalau aku sendiri cuma mengambil kerumitan ornamen-ornamen ukir di Jepara. Tapi kalau dalam konteks karyaku yang sekarang kerumitan itu ada di dalam setiap karya, dan bukan berbentuk ornamen lagi.
RR: Bagaimana dalam pola pikir?
NW: Dalam pola pikir mungkin lebih ke permasalahan filosofis dasar dalam berkesenian, bukan pada tataran visual lagi. Misalnya sedikit banyak terpengaruh pada pemikiran Sosro Kartono, beberapa tokoh kebudayaan Jawa dan lokal pada masa lampau. Tapi kalau secara tegas kemudian aku representasikan itu dalam karyaku sekarang, kayaknya tidak. Pada awal-awal aku berkesenian dengan beberapa drawing tahun 1998-2003an banyak sekali terpengaruh dalam visualnya juga, tetapi setelah proyek mural Apotik Komik (Mural Kota) banyak perubahan pada tema dan visualnya.
RR: Apa saja yang mempengaruhi karya kamu?
NW: Kalau yang paling dominan sebetulnya kalau dari segi visualnya lebih terpengaruh bahasa komik, karena aku sendiri merasa mengenal seni rupa dari dunia komik, animasi dan ilustrasi bukan dari dunia senirupa atau fine art yang ada sekarang. Kalau dulu pada waktu SD dan SMP lebih banyak baca komik, cerita-cerita. Kalau seni rupa saya tidak terlalu mengenal karya Affandi, dulu tidak terlalu suka.
RR: Kalau Sekarang?
NW: Kalau sekarang juga tetap biasa saja, hahaha.. Karena memang basicnya tidak mengarah kesitu. Aku sendiri terpengaruh menggambar karena lihat ilustrasi yang bagus dari cover buku, cover kaset, kaos. Jadi lebih pada bukan fine artnya.
Dulu waktu SMA saya juga tidak mengenal seniman-seniman yang terkenal sekarang, mungkin Affandi saya tahu, kalau internasional paling Van Gogh, hampir sama dengan orang umum, dan lukisan realis seperti Basuki Abdullah, itupun bukan menjadi acuan dalam berkarya, nggak ada korelasinya. Setelah masuk ISI (Institut Seni Indonesia) baru belajar fine artnya di situ, menjadi tahu maestro-maestro lukisan. Tapi juga nggak kemudian berkarya sebagai melakukan apa yang aku lakukan seperti biasanya. Aku aja sudah bikin komik mulai dari SMP, mulai bikin satu buku tapi tidak selesai. Bikin desain kaos. Ya karena saya tidak masuk SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa), sehingga lebih awam soal seni rupa ketika masuk ISI.
RR: Ketika di ISI ada pengaruh dalam kamu melihat seni nggak? Seperti setelah melihat pelajaran-pelajaran estetika, sejarah seni rupa barat dsb...
NW: Ya sedikit. Kalau aku sendiri untuk merubah cara pandang mungkin tidak terlalu, karena aku sendiri merasa apa sudah aku dapat itu tinggal aku fokuskan lagi ketika masuk ISI. Bukan kemudian aku mengadopsi. Ilmu-ilmu atau pengetahuan yang diberikan itu hanya sebagai pembanding. Jadi ketika aku masuk ke seni, masuk ke ISI, lebih banyak untuk mencari wawasan yang lebih luas tentang senirupa dan belajar bagaimana berkarya. Kalau sebelumnya kan belum ada angapan aku bikin karya, bagaimana aku berkarya, bagaimana mereperesentasikan sebuah ide dalam berkarya, biasanya kan pengen gambar ya gambar saja, bikin komik ya bikin komik saja…
RR: Apa saja komik yang kamu baca dulu?
NW: Standarlah. Superman, Spiderman, Donal Bebek, Mickey mouse, Putri Salju, Alice in wonderland, HC anderson, dan Empat Sekawan, eh.. itu bukan komik ya. Ya cerita-cerita seperti Gola Gong, Lupus, majalah HAI.
RR: Bagaimana komik itu menjadi bagian penting dalam karya kamu sekarang?
NW: Sangat penting, karena aku pikir keajaiban komik tidak sepenuhnya bisa aku dapatkan pada karya-karya seni rupa yang lain. Ada banyak hal yang aku dapatkan dari komik. Kalau dari komik aku sering belajar mengenai baik dan buruk, ada superhero ada penjahatnya, ada yang diselamatkan dan sebagainya. Disitu aku mendapat pelajaran sendiri dalam berkarya, menginsiprasi bahwa dunia memang dikonstruksi seperti kalau kamu nggak jadi hero, ya jadi penjahat aja. Nggak banyak pilihan. Ada banyak hal yang selalu dipertentangkan. Demikian pula dengan cerita-cerita, misalnya komik Mahabarata, ada pahlawannya.
Sebenarnya aku sendiri dari kecil selalu mengimajinasikan bahwa aku kadang menjadi pahlawannya tapi dalam satu waktu tertentu kadang menjadi penjahatnya. Ada kalanya itu menjadi pelajaran yang penting, tidak selamanya penjahat itu tidak berguna, atau pahlawan itu akan selalu dibutuhkan. Karena ada beberapa cerita komik itu menginspirasi bahwa pahlawan itu akan menjadi musuh, ketika penjahat sudah mati. Pahlawan sudah tidak ada yang diperjuangkan lagi dan akhirnya perang sendiri. Konteks-konteks seperti itu akhirnya aku ambil sebagai ide dalam karya.
RR: Dalam karya-karyamu, kamu sering menampilkan figur-figur tertentu, seperti manusia kuning dsb. Darimana munculnya?
NW: Dalam (kepentingan) bikin karakter, tapi karakter itu tidak untuk dipuja untuk selamanya. Ada masanya, kayak yang pertama dari drawing-drawing hitam putihku. Itu aku bikin satu orang, tapi aku bikin banyak (gandakan). Jadi ada suatu keseragaman dalam kehidupan, termasuk tidak ada gender, aku anggap semua sama sebagai manusia. Kemudian seperti manusia kuning, aku lebih banyak melihat figur-figur orang Asia. Kalau dalam persepsi barat Asia itu kuning. Kemudian misalnya figur yang merah, itu lebih banyak berbicara tentang native people seperti orang-orang pribumi, Kalau belajarnya dari daerah-daerah Skotlandia itu ada tempat bernama Heartland, itu ada pribumi yang hidup disitu mempertahankan diri dari desakan dunia luar.
Jadi aku pikir dari tiap karya selalu ada karakter yang selalu muncul dan kadang bisa tidak muncul, itu seperti penokohan seperti tradisi dalam komik. Mungkin tradisi dalam lukisan yang tidak mengenal karakter atau tokoh yang bisa dijadikan ikon berulang-ulang. Ikon berulang itu memang basic yang nggak ada di seni murni, karena hal itu cukup banyak terpengaruh dari komik.
RR: Bagaimana kamu melihat dalam seni murni ada instalasi, video art dsb?
NW: Kalau sebatas wawasan OK saja, aku sendiri tidak peduli itu sebagai batasan dalam berkarya atau seni yang baru. Karena dari awal itu sudah ada, tinggal kita yang baru-baru ini menganggap itu bagian dari seni. Kalau aku sendiri seni instalasi itu sebenarnya mungkin hal yang biasa, sudah jamak bagiku, kalau memang kebutuhan kita display ruangan membuat instalasi, menyusun berbagai materi untuk pameran, itu mungkin sudah bisa dianggap melakukan pendekatan instalatif. Jadi terlalu berlebihan bagi aku sendiri untuk menjadi hal yang inovatif bagi aku. Kalau aku sendiri sih melihatnya tidak terbatas lagi, karena dalam seni sendiri sudah sedemikian cair, kalau yang selama ini aku lakukan dimaknai orang lain sebagai karya seni ya syukur.
Tapi sebenarnya hal-hal wajar yang aku lakukan sebelumnya seperti drawing dsb sudah bagian dari seni, cuma dalam tataran seni murni itu nggak dilihat, nggak menarik. Padahal menurutku itu lebih menarik. Mungkin wacana seni rupa sekarang sekarang kurang jeli dalam melihat proses berkesenian sesorang. Yang dilihat mungkin hal-hal yang menjadi puncak. Kurang fair juga karena kalau dilihat karya drawingku lebih banyak dari lukisanku, dan secara karakteristik memang sudah berbeda, aku nggak bisa buat karya drawing untuk karya lukis, kalau drawing dibuat berseri, sehingga butuh waktu yang panjang untuk dibaca bukan hanya waktu pameran. Tidak seperti dalam karya lukisan atau tiga dimensi, dan itu tidak bisa disubstitusikan kalau hanya drawing diatas kertas, bukan juga untuk dikonsumsi pameran. Jadi proses di situ hanya bisa dilihat orang, makanya aku berminat untuk membuat buku ya karena memang formatnya drawing- itu bukan buat dipamerkan. Karena kalau lukisan lebih dipadatkan untuk menjadi satu cerita, sehingga tidak harus berseri.
RR: Kalau lukisan tidak bisa disubstitusikan dari drawing, lalu bagaimana awalnya kamu memperlakukan lukisan?
NW: Aku sebelumnya memang lebih banyak di drawing. Aku sendiri sadar ketika masuk lukisan dan bukan drawing, perlakuannya menjadi berbeda. Kebutuhannya juga berbeda, kebutuhanku sendiri dan kebutuhan audiens. Dunianya juga lebih profesional, karena kalau di lukisan memang ada beberapa pertimbangan untuk audien dan aku sendiri. Kemudian dalam dunia profesional, aku pikir sudah tidak dapat lepas jaman sekarang, bukan jaman dulu lagi.
Jadi lukisan itu sudah menjadi sebuah profesionalisme, wacana kemudian frame bahwa itu lukisan aku pikir dapat menjadi penting. Bisa diadopsi orang, bisa dikoleksi orang, itu menjadi pertimbangan lain. Tapi kalau komik itu bukan pertimbangan, jadi bukan substitusi. Tidak bisa.
RR: Ketika karya kamu akhirnya diterima di seni rupa yang sebelumnya kamu tidak terlalu intens, bagaimana kamu menyikapinya?
NW: Aku pikir masuk pada dunia seni rupa profesional aku rasa memang sudah saatnya. Aku lihat beberapa tahun ke depan mungkin harus ada impact yang bagus bagi aku sendiri dan diluar diriku bahwa karya itu juga penting bagi orang lain. Jadi memang harus dinegosiasikan di ruang yang lebih luas. Nggak ada masalah, karena kalau sudah siap itu memang bukan masalah.
RR: Sejak kapan kamu tertarik atau bersentuhan dengan street art?
NW: Sejak bekerja dengan Apotik Komik, mural kota sekitar 2002. Mural Sama-Sama tahun 2003. Banyak berkarya di jalan sehingga tertarik juga untuk berkarya yang lain, ada grafiti, ada stencil, mencoba belajar. Karena juga pada waktu itu belum masuk pada wilayah yang profesional, jadi aku punya banyak waktu untuk belajar dan melakukan eksplorasi. Aku pikir itu merupakan hal yang penting sebelum kita masuk dunia yang menjadi pilihan akhir.
Kemudian waktu itu ke Amerika, banyak berinteraksi dengan banyak orang dan seniman street art, sehingga ada pergeseran dalam cara berkarya. Kemudian juga belajar street art sebagai fenomena seni, bukan hanya perlawanan. Karena beberapa di Jogja waktu itu masih berpikir bahwa itu sebagai perlawanan pada hegemoni-hegemoni di ruang publik. Aku pikir sebagai wacana seni juga harus dipikirkan, masa-masa itu masih dalam tataran bayak belajar dan mempengaruhi juga dalam bekal sebagai keberanian berkarya untuk saya, baik di ruang publik, di kanvas dan sebagainya.
RR: Untuk karya-karyamu sekarang, secara garis besar apa yang menjadi tema? Apa ada perkembangan tema?
NW: Ini memang masalah sosial-personal, tapi kalau sekarang lebih pada cara memandang kita pada dunia barat tapi dengan bahasa yang lebih mudah diterima orang. Kalau dulu karyaku sendiri aku rasa agak berat, dalam artian orang untuk melihat atau merenungkan itu sangat dalam. Tapi kalau sekarang orang langsung bisa menangkap maksudnya apa, karena bahasanya sudah berbeda dengan yang aku gunakan jaman dulu. Aku pikir itu menjadi suatu perubahan dalam karyaku.
Kalau dari segi tema sebenarnya nggak jauh berbeda cuma ada pergeseran. Kalau dulu lebih banyak kaitannya dengan aku sendiri, kalau sekarang lebih ke luar dari aku sendiri. misalnya dulu aku berbicara tentang orang Indonesia, sekarang tentang orang Asia. Aku pikir sesuai perkembangan jaman, yang mulai keluar dari batas-batas wilayah secara fisik. Jadi aku pikir ada kegelisahan, kalau dulu kita gelisah dengan negaranya sendiri, sekarang gelisah dengan dunia, seperti global warming. Itu kan jadi tanggung jawab seluruh dunia. Dan toh karya kita sekarang pun negosiasi audiensnya juga bukan hanya orang Indonesia saja, tapi banyak orang yang bisa mengakses secara mendunia, kalau kita tampilkan dengan website dsb tanpa pameran pun. Dan kalau bahasa kita tidak pakai bahasa inggris aku pikir agak kesulitan untuk orang memahami karya kita, jadi ini menuntut kita untuk belajar mengaktualisasikan bahasa yang bukan hanya orang kita. Jadi karya memang harus dikembangkan ke skala yang lebih luas.
Kalau aku lihat beberapa (seniman) kalau kemudian hanya mendadani seni lokal atau seni tradisi. Itu sebenarnya tidak terlalu banyak, itu hanya mendadani saja. Atau kalau bahasa anlaloginya “burger rasa tempe”, hehehe… Aku pikir gak terlalu krusial karena ada hal yang lebih dalam dari itu harus kita tangkap. Dari segi filosofis harus ditangkap maksudnya apa, aku pikir itu lebih krusial dan urgent. Jadi tidak terjebak pada repetisi romantisme saja atau mendadani suatu romantisme. Sehingga menjadi ‘retro-romantisme’. Kalau kita gak bisa menangkap esensi maknanya pun juga percuma kita menjadi orang Jawa atau Indonesia. Aku pikir itu juga nggak lucu.
RR: Itukah yang menjadi tema dalam oksidentalisme? Kira-kira kamu bersedia tidak memberikan bocoran visual kamu?
NW: Oksidentalisme itu sebenarnya bahasa yang sudah cukup lama berkembang, tapi dalam segi visual cuma aku balik aja. Sederhana sebetulnya, kemudian beberapa superhero yang ada di dunia barat aku representasikan sebagai yang menyebabkan masalah di dunia ini. Seperti di Palestina, kejatuhan kebangkrutan ekonomi dunia, kerusakan lingkungan global sebetulnya tidak lepas dari tanggung jawab superhero sebagai pemimpin dunia. Jadi pada titik seperti itu seorang hero menjadi seperti penjahat dan seorang penjahat bisa menjadi hero di mata orang lain, jadi secara sederhana bocorannya seperti itu.
RR: Kamu mendapat pengaruh gagasannya dari mana?
NW: Mungkin dari seniman Amerika juga, seperti Winston Smith, Ron English, Robert Crumb, Banksy (Inggris), yang mereka mulai mengkritisi negaranya sendiri atau dunianya sendiri. Ini menjadi kesadaran aku secara eksplisit. Jadi kalau dari pemikiran mungkin ada Edward Said, Said Nasir, aku pikir bisa menjadi pertimbangan. Tapi itu terlalu dalam. Kalau untuk publik itu harus disederhanakan lagi, karena aku pikir seni sudah bukan teka teki lagi. Itu untuk dinikmati dan untuk dikritisi. Jadi selain menghibur kita juga mempengaruhi pemikiran seseorang.
Kalau bagi aku sendiri apapun karya itu harus ada maksud tertentu, ada sudut yang harus kita sampaikan. Jadi bukan hanya mengeksplorasi keanehan, kita harus memperlihatkan bahwa realitas juga merupakan keanehan, itu bagi logika saya.
RR: Kalau kamu melihat hubungan barat dan timur, ada optimisme nggak?
NW: Ada, kalau kita bisa melupakan sejarah, hahaha.. !
Itu susah... jadi sebenarnya yang harus dikonstruksi itu: karena orang barat bisa mempersepsikan orang timur, tapi kalau orang timur sendiri yang bisa merepresentasikan orang barat baru sedikit. Itupun ketika mereka nggak masuk dunia barat pun mereka nggak dianggap. Kalau Edward Said itu orang timur yang masuk di barat jadi dianggap. Padahal pada waktu itu, banyak penulis yang lain yang menulis cultural studies, tentang dunia postkolonial juga banyak, tapi yang muncul itu, ya karena hidup di barat. Jadi kalau mau internasional kita harus moving ke LA, NY, San Fransisco…
RR: Kamu juga harus pindah ke New York dong? Hahahahaha. Bagaimana kamu melihat artscene di Jogja sekarang?
NW: Art scene di Jogja sekarang kereeen…, karena teman-temanku banyak beredar, hahaha.. Dan itu sebenarnya bukan barang baru. Kita sadar betul kalau hidup di dunia agraris, jadi kalau ada yang menulis agraris, kita udah ngomong duluan.
RR: Agraris Koboi..
NW: Hehehehe... Jadi aku pikir, art scene di jogja buat scene art sendiri itu bagus, tapi buat yang lain aku nggak tau, karena mereka nggak sadar dengan art scene itu sendiri. Karena mereka lebih banyak bergelut di studio, pertemanan secara individual, jarang melakukan komunikasi dengan yang mereka geluti, jadi lebih banyak persaingan. Tapi aku rasa di komunitasku sendiri lebih banyak saling mendukung, lebih banyak motivasi, jadi aroma persaingan juga tidak terlalu. Aku pikir lebih enak karena sudah dari dulu, bukan hal yang baru lagi ketika masuk ke arena yang lebih luas.
RR: Kalau teman-temanmu itu bisa dibawa ke tingkat dunia, dalam bentuk apa ketika harus disuarakan?
NW: Aku pikir harus ada yang disuarakan dari komunitas dalam artian bukan hanya gaya visual. Kalau gaya visual lebih ditangkapnya orang lebih cepat, “oh, ini baru trend!”, tapi kalau itu menjadi lain. Kalau membuat isu di dunia internasional itu menjadi 'bunyi', ada yang harus diperdebatkan. Bukannya pasarnya atau apa, tapi juga wacana di lokal dan Asia, ada kecenderungan apa sih dalam karya-karyanya. Bukan dari bentuknya.
RR: Kalau menurut kamu perlu nggak dilakukan komunikasi dengan artscene di negara lain? Atau sudah coba dilakukan?
NW: Aku pikir sudah coba dilakukan. Aku sendiri sih kalau berusahanya karena bukan atas nama lembaga jadi atas nama pertemanan, walaupun di dunia maya. Ya dulu masih disini (temanku) Andrew Scott.. dan sekarang di sana dan masih berteman dan memberikan masukan dalam berkarya. Ada beberapa seniman lain yang masih peduli dan berhubungan. Aku pikir hubungan dalam tingkat personal itu kedepannya akan lebih prospektif daripada hubungan atas nama lembaga. Kalau aku lihat atas nama lembaga kita dianggap “underbow”, kalau pertemanan kita selalu setara. Soalnya aku kenal si Andrew dan terus karyaku ada yang tertarik dari Jonathan Levine Gallery. Jadi hanya pertemanan saja, belum bisa pameran disana. Tapi paling tidak kita ada komunikasi, dan kita bisa berteman dengan redaksi Juxtapoz atau apa, dan itu memang yang harus dilakukan seniman jaman dulu. Kalau seniman jaman dulu mungkin harus nyembah-nyembah ke lembaga kalau mau masuk, atau menjiltai bokongnya lembaga itu. Kalau aku pikir sih lebih independen saja. Menjalin hubungan baik dengan banyak pihak adalah hal yang paling tepat, dengan komunitas dan insitusi.
RR: Apa mimpi terbesarmu di dalam karier profesionalmu?
NW: Kayak Agnes Monica... go internationa! hahaha…
Setidaknya go asia dulu kayak Ahmad Dhani, mmm… kayaknya go Amerika, setidaknya di Asia lah! Kita bisa berbicara dalam artian bukan hanya di pasarnya tapi juga di tingkat pewacanaannya. Jadi ada isu yang kita lontarkan disini. Kalau mungkin bisa itu, sudah sip lah! Mungkin tidak jauh-jauh, ada Cina, Korea, Singapore, India, Taiwan, Filipina. Aku pikir seperti itu.. lebih dekat..
RR: Dilihat dari sisi visual, cenderung ada nuansa ornamentik pada patung-patung, lukisan, dan komikmu. Mengapa?
NW: Karyaku secara garis besar memang ornamentik. Aku sadar betul, sadari komposisi dan detail itu sudah ornamentik. Ya mungkin karena pengaruh belajar ukir di Jepara. Jadi kalau belajar ukir di Jepara itu belajar detail, ada irama lengkungannya, tidak kaku. Jadi karena tiap hari lihat kayak gitu, sehari-harinya ikut buat juga, ikut desain juga, aku pikir jadi pengaruh ornamentiknya. Karena mungkin latar belakang Jepara, keluarga pengrajin.
RR: Kok kamu nggak masuk kriya?
NW: Kriya itu bukan pilihan, nggak tau kriya itu ngapain. Kalau patung kan jelas, mau masuk patung jelas mau bikin patung, masuk lukis jelas nglukis, nah kalau masuk kriya? Bentuknya apa kan bingung, secara gambaran saja sudah membingungkan.
RR: Bagaimana penyikapanmu terhadap karya kamu yang berbentuk 2 dimensi dan 3 dimensi, patung dan lukisan? Apakah ada sikap yang berbeda dalam perlakuannya?
NW: Sama saja, patung itu aku bikin dari drawing dan lukisanku, jadi sebenarnya nggak ada yang berbeda. Jadi dalam karyaku 3 dimensi itu bukan dari dari spirit 3 dimensi tapi dari tradisi drawing.
RR: Kalau antara media kayu dan media sekarang?
NW: Secara ideologis itu sudah berbeda, kayu banyak mencari dalam keindahan serat dsb, aku pikir menjadi banyak membatasi karena bentuk-bentukku sebenarnya lebih bebas, tidak terpaku pada ini itu, jadi harus keluar dari kayu. Sebenarnya aku bukan memilih kayu karena pilihan secara sadar, tapi karena kebiasaan dari Jepara, banyak menguasai teknik kayu, kemudian di ISI itu juga lebih banyak tradisi kayunya jadi aku pikir tidak ada pilihan lain.
CYK: 3 kata untuk mendiskripsikan karyamu?
NW: Cerdas, cerah dan ceria...
Dan sekarang sudah tidak terlalu mbentoyong.
RR: Last statement?
NW: Statement dalam kesenian aku pikir, bahasa seni murni yang selama ini ada, aku pikir tidak banyak lagi menjadi pembatas dalam berkarya. Seni rupa itu desain juga masuk, kriya juga masuk, saya kira lebih open. Jadi aku pikir kemungkinan baru ke depannya lebih banyak. Kalau seni murni, lukis, ukir dsb tidak banyak perkembangan, jadi aku pikir harus ada suntikan dari yang lain, dan tentu saja mereka harus menguasai tradisi lokal.
RR: Sip, bro!
|