Langgeng Gallery
 

Bandung School In The Expanded Field
Painting After Non-Representational Era

Prolog

Sejak lama, sekitar Abad-19 yang silam, kota Bandung telah menjadi pusat aktivitas para pelukis alam (landshcapschilder). Lukisan semacam itu merupakan suatu pelukisan alam yang memperlihatkan visi dan rasa pelukis; suatu tiruan ‘saintis’ sebagai ekspresi non-rasional sekaligus upaya seniman mengungkapkan spiritual. Pengaruh lukisan landscape masa Romantic (Delacroix, Gericault, Constable, Turner) di Eropa yang bersikeras menolak rasionalitas kita temui pada lukisan-lukisan Raden Saleh di abad-19 kemudian pelukis Abdullah Suryo Subroto. Citra romantisme sekaligus Timur yang eksotik pada lukisan Raden Saleh, Abdullah Suryo Subroto, Basuki Abdullah, Wahdi Sumanta, Mas Pirngadi, Wakidi atau Angkama bukanlah semata-mata didorong semangat pelayanan pada gejala turisme sebagaimana dikritik S. Sudjojono, yakni praktek seni yang seolah hanya melayani pembelian karya-karya lukis untuk dibawa pelancong Belanda ke negerinya.

Saya kira, citraan pada lukisan pemandangan alam bergerak lebih jauh untuk menjadi ruang ‘persembunyian’ baru, membuat jarak terhadap masyarakatnya dan keinginan untuk mencermati misteri alam kedalam perhitungan warna-warna tropis yang berbeda dengan warna-warna lukisan Eropa. Misteri alam, eksotisme, kisah-kisah oriental yang magis penuh romansa menjadi kebangkitan seni lukis pemandangan alam sebagai cara baru pelukis untuk meninjau posisi dirinya ditengah konstruksi masyarakat Indonesia yang sedang berkembang. Dalam cara pandang romantik, melukis alam adalah pelarian (absensi-nya dari realitas) para pelukis merenungi dirinya.

Pada akhir abad-19 Bandung merupakan lokasi pemukiman bangsa Eropa dan Asia (Arab, Cina dan India ). Sebagai kota , Bandung diproyeksikan menjadi kota modern dengan pusat pemerintahan, pendidikan dan rekreasi. Pusat kekuasaan di Bandung tidak terletak pada tradisi kekuasaan sebagaimana kita temui di wilayah Jawa lainnya. Sistem kota tidak merepresentasikan sistem keraton atau kerajaan dimana posisi istana menjadi pusat bagi kehidupan kota . Permulaan abad-20 di Bandung diwarisi semangat modern yang dibentuk oleh para pendatang multikultural.

Bandung modern merupakan asimilasi budaya modern Eropa dengan folklor lokal beserta budaya populer kota . Bisa dikatakan, asimilasi tersebut memberi pengaruh kuat pada pertumbuhan seni lukis, tari, drama, sastra, teater, film, pariwisata, olahraga, fotografi dan arsitektur. Konstruksi wajah kota Bandung secara umum merupakan contoh kota-kota di Belanda dimana bentuk arsitekturnya diramu dari berbagai gaya Barok, Art Nouveu, Art Deco dan gaya Klasik. Sebagai salah satu wujud kota modern abad-19, Bandung merepresentasikan sikap hidup Eropa yang individual, intelektual dan percampuran romantisme Eropa atas Timur sekaligus pemanfaatan bahasa asing yang melancarkan komunikasi lintas kultural untuk memperoleh kedudukan yang sama dalam informasi modern.

Perdagangan dan gelombang bermukimnya orang Eropa di Bandung mendorong percepatan idiom seni lukis modern melalui penggunaan cat minyak, palet, kanvas untuk keperluan melukis. Dan diantara pedagang bangsa Belanda terdapat beberapa pelukis, kolektor barang-barang seni dan pelukis khusus untuk keperluan dokumentasi.

Cerita Awal Berdirinya Mazhab Bandung

Adalah 2 orang Belanda yang meringkuk di kamp tahanan Jepang. Namanya Simon Admiral, seorang guru dan Ries Mulder, seorang pelukis yang tadinya hendak berpameran di Jakarta . Dalam tahanan, mereka membicarakan ketidakadilan negaranya dalam pengembangan pendidikan di Indonesia . Simon Admiral mengira apabila orang Indonesia diberi kesempatan untuk belajar kesenian dengan cara-cara Eropa Barat, besar kemungkinan orang Indonesia bisa menghasilkan karya bermutu sesuai jamannya, sehingga tidak terkurung oleh apa-apa yang telah dihasilkan oleh tradisinya (argumentasi Simon ini merupakan ciri dari paradigma modernisme yang kemudian melahirkan seni modern). Analisa Simon berlanjut bahwa besar kemungkinan melalui sebuah sistem pendidikan, tradisi seni di Indonesia tidak akan menjadi fosil beku, melainkan tersambungkan tanpa mesti kehilangan identitasnya. Singkat cerita, keduanya menghasilkan konsep pendidikan seni rupa untuk Indonesia, lalu pada 1 Agustus 1947 resmilah sebuah pendidikan dengan nama Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar yang ditempatkan pada Fakulteit Voor de Techniche Wetenschappen (Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik) Universitas Indonesia di Bandung.

Khususnya melalui Mulder, komposisi geometrik pada lukisan Sadali diwarisi gaya pelukis modern Prancis, Jacques Villon seorang pelukis yang berdiri diantara gaya Futurisme dan Kubisme. Umumnya lukisan Villon, komposisi bidang kanvas dimulai dengan dua garis yang saling menyilang, melintang saling membagi ruang dan membentuk titik temu. Warna Villon dimulai dengan cat warna cerah dan ringan, netral.

Meski warna-warna pada Villon banyak dipengaruhi Fernand Leger dan pelukis futuris Delaunay, cara pewarnaan demikian banyak terinspirasi riset Paul Cezanne (1839-1906) terhadap sistem mata melihat objek. Mata, dalam teori Box Perspective Cezanne, selalu melihat titik puncak setiap benda dan pada gilirannya benda memperoleh cahaya yang berlebihan begitupun nada dan sensai yang dicerap oleh mata. Meski demikian, Cezanne tidak memberi perhatian yang lebih pada garis melainkan pada efek-efek warna. Tradisi mewarnai pembidangan yang kita temui pada banyak karya Kubisme, dalam pengaruh Cezanne menekankan keutamaan garis pada gaya Kubisme kemudian, dengan kata lain meletakkan konsepsi lukisan modern Abad-20.

Reaksi terhadap perkembangan seni lukis baru di Bandung tidak saja ditujukan oleh para pelukis otodidak generasi S.Sudjojono dan gaya pendidikan sanggar namun dilakukan oleh para seniman yang terang-terangan bernaung dalam sebuah ideologi tertentu. Reaksi tersebut menjadi wajar karena gaya seni lukis di Bandung pada kurun waktu 1950-1960 memang menyimpang dari corak realisme pelukis Persagi (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia ), SIM (Seniman Indonesia Muda) atau mereka yang tergabung dalam Pelukis Rakyat. Penyimpangan tersebut terutama dilakukan para pelukis dalam lingkaran Seni Rupa-ITB.

Kubisme geometrik menjadi sebuah cara untuk melepaskan diri dari representasi realitas dan aturan-aturan yang bersfiat komunal dalam seni tradisional. Secara sadar pelukis seperti Ahmad Sadali, But Mochtar, Mochtar Apin, Srihadi Soedarsono, Popo Iskandar meyakini sebuah resiko untuk menyambut masalah-masalah baru dalam praktek seni lukis terutama pencarian nilai-nilai individu. Kesadaran tersebut, diwarisi semangat akademi dan pertumbuhan pendidikan seni rupa terkait dengan keyakinan untuk memulai era baru bagi perkembangan seni lukis Indonesia .

Seperti Piet Mondrian yang memberi pengaruh besar perkembangan seni abstrak sejak kedatangannya di New York pada 1940, Ries Mulder diperkirakan telah berada di Bandung pada 1940an. Sebelum datang ke Indonesia, Mulder pernah tinggal di Paris mempelajari seni modern Eropa, sejarah, filsafat dan teorinya. Kita tahu, abad-20 di Perancis dan Eropa secara umum merupakan abad dimana seni modern berkembang pesat melahirkan paham kubisme dan futurisme yang diawali seni lukis pasca impresionis. Prancis dengan kubisme yang dikembangkan Picasso dan Braque. Selain itu pengaruh kuat Jacques Villon (terlahir dengan nama Gaston Duchamp) salah seorang dari Duchamp bersaudara (Marcel Duchamp dan Raymond Duchamp) tampak pada gaya melukis Mulder. Villon sendiri pada 1910 di Prancis mulai melakukan eksperimen kubisme analitik. Gaya inilah yang dimanfaatkan Mulder sebagai metode seni modern di Ban dung. Kita tahu, gelombang seni modern Eropa memang tidak saja bergerak ke benua Amerika, terutama di kota besar seperti New York . Gelombang seni modern tersebut melintas kawasan Asia-Pasifik seperti kemudian kita kenali di kota Bandung .

Mazhab Bandung merupakan istilah melalui proses bertahap untuk mendefinisikan kecenderungan gaya melukis para pelukis Bandung yang mendasari karya lukis mereka dengan prinsip-prinsip formal seni. Istilah ini tampaknya lahir untuk mengatasi perbedaan gaya melukis diluar pendidikan Seni Rupa-ITB sejak pertumbuhannya menjadi jurusan seni rupa di ITB di akhir 1950an. Setelah pameran di Balai Budaya 1954, pelukis Seni Rupa-ITB memamerkan karya-karyanya pada Pameran Nasional menyambut Konferensi Asia-Afrika 1955. Aliran Bandung atau Bandungers terdiri dari komposisi mahasiswa dan dosen yang berada dalam situasi pengembangan pendidikan.

Meski diluar pendidikan ITB terdapat pelukis-pelukis Bandung lain yang berkumpul dalam komunitas seni seperti ‘Jiva Mukti’ dan ‘Sanggar Seniman’, gaya melukis Bandung dikenal kemudian sebagai gaya melukis yang mengutamakan analisa formal terhadap bentuk, garis, warna. Julukan seni abstrak Bandung memperkuat identitas pelukis Bandung . Pada 1958, kelompok seniman memberi judul pamerannya di Balai Budaya-Jakarta sebagai “12 Pelukis Bandung ”. Beberapa tahun kemudian, 1966, masih di Balai Budaya, “Sebelas Seniman Bandung” memamerkan karya-karyanya, tidak hanya seni lukis tapi kini menyertakan seni patung dan printmaking.

Mazhab Bandung memperkokoh dirinya pada 1971 di Taman Ismail Marzuki dengan pameran kelompok yang dinamakan “Grup 18”.

Kecaman-Kecaman

Sebelas pelukis Bandung: Ahmad Sadali, But Mochtar, Edie Kartasubarna, Hetty Udit, Kartono Yudokusumo, Sie Hauw Tjong, , Srihadi, Karnaedi, Sudjoko, Soebhakto dan Popo Iskandar berpameran di Jakarta. Reaksi bernada kecaman tertulis yang terpenting untuk menyambut pameran para pelukis Seni Rupa-ITB pada 1954 di Balai Budaya-Jakarta itu dikeluarkan Trisno Sumardjo di Mingguan Siasat (Bandung Mengabdi Laboratorium Barat, 5 Desember 1954). Trisno antara lain mengecam:

“Siapa sebagai pelukis Indonesia atau kritikus dan peminat lainnja hendak bertolak dari kehidupan ditanah-air sendiri dengan masalah2 dari alam dan manusiannja, dia akan ketjewa melihat pameran ini, karena hampir tak ada yang tjojok dengan djiwa dan pengalamannja. Tapi sebaliknja, siapa sudah biasa bertolak dari gedung2 sekolah dan laboratorium Barat, dimana djiwa dan pengalaman ke-Indonesiaan tak begitu diindahkan, karena jang primer adalah hasil2 synthetis, berpedoman djiwa dan pengalaman Barat, maka dialah akan merasa senang. Dia akan bangga bahwa bangsanja sanggup mempergunakan bahan2 import itu – rasa, pikiran dan materi – seperti seorang teknikus djuga sanggup membentuk pesawat radio dengan alat2 jang didatangkan dari luar negeri.”

Kecaman dari publik seni diarahkan kepada pelukis Bandung . Belum banyak yang mengetahui bahwa apa yang diajukan Seni Rupa-ITB adalah memperkenalkan, setidaknya pertama kali, gaya abstrak disaat orang masih dibelenggu seni lukis ala Persagi yang nasionalis, naturalis model Basuki Abdullah, atau ekspresionis dari Affandi. Pelukis Basuki Resobowo mengomentari pada 1957,“Kita hanya dicekau oleh susunan konstruktif dari garis, warna dan bidang.”

Di masa tegangnya konflik kebudayaan yang terkait dengan hubungan ‘politik’ antara konsepsi seni untuk rakyat dengan humanisme universal, tahun 1963 Misbach Thamrin menulis:” Seni abstrak lari kepada obscurantisme (pengaburan) bentuk. Dimana isi atau temanya lebur dicincang komposisi-komposisi dan kepingan-kepingan warna. Sehingga tinggal serupa kerangka yang bolong, tanpa memberikan imajinasi yang jelas tentang kenyataan-kenyataan dalam kehidupan.”

Tulisan Trisno Sumardjo yang mengkritik pameran 11 pelukis Bandung pada 1954 menjadi bahan pokok untuk memahami posisi dan perkembangan seni lukis di Bandung dimasa Ries Mulder. Istilah Modernisme menjadi judul tulisan Sitor Situmorang untuk menanggapi pameran pelukis Bandung yang juga didukung the American Association itu sekaligus menimpali kritik yang dilancarkan Sumardjo sebelumnya.

Situmorang antara lain menulis: “Menghadapi pameran tersebut diatas maka perumusan yang segera melonjak dalam pikiran ialah modernisme yang dalam pameran itu memuncak pada diri pelukis Dali. Menyebut modernisme tersangkutlah anggapan-anggapan mode, cita rasa, smaak. Selanjutnya tergantung dari temperamen kita masuki suasana demikian sebelum mengikat kepenelitian pada lukisan satu persatu. Mungkin perasaan tidak betah yang akan timbul, mungkin sebaliknya. Tapi pada kita timbul perasaan tidak betah, tapi pernyataan ini segera kita susul dengan pengakuan adanya perbedaan hasrat yang ingin dipuaskan dalam menghadapi s e n i.”

Tentang Pameran Ini

Perdebatan ideologi seputar seni lukis sejak dasawarsa 1950an dan 1960an mungkin telah berakhir. Bagaimanapun setiap eksponen pelukis modern Bandung yang tersebut diatas pada akhirnya diterima sebagai pelukis yang memberikan dasar-dasar baru dalam perkembangan seni lukis modern kita.

Kini di Abad-21 ini, tentu saja, di Bandung telah banyak bermunculan pelukis-pelukis muda. Pelukis-pelukis tersebut sekurangnya masih bisa dikategorikan berada dalam bayang-bayang wacana Bandung sebagai laboratorium Barat. Meskipun dengan mudah kategori semacam itu bisa dipatahkan. Pelukis lulusan seni rupa-ITB tampaknya masih bisa merasakan bagaimana ‘laboratorium’ itu bekerja dalam proses kreasi artistiknya. Sebaliknya, dalam suatu penegasan, pelukis diluar akademi itu bekerja berdasarkan pengalaman pribadinya dan menikmati perkembangan medan sosial seni rupa di Bandung yang telah dibangun sejak tahun 1950an.

Tujuan pameran ini adalah ajakan untuk kembali mendiskusikan seni lukis modern di Bandung, baik persoalan makna, relasi-relasinya pada budaya kontemporer dan terutama mencari dasar-dasar filosofi modern yang melatari segala praktek seni rupa pada diri seorang pelukis. Yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana kini, medan sosial seni lukis Bandung , menemukan cara untuk meredefinisi cara pandang untuk membaca seni lukis modern baik perubahan-perubahan mendasar di lapangan praktik maupun wacananya.

Tujuannya sederhana: bagaimana para pelukis itu menemukan konsepsi modern-nya di tengah kebudayaan kontemporer sekarang? Jika dahulu Mazhab Bandung dikenali karena penyimpangannya dari realisme Persagi serta perbedaannya dari kecenderungan para pelukis sanggar, maka dalam makna yang luas, penyimpangan apakah yang bisa dihasilkan oleh para pelukis muda Bandung sekarang? Jika dulu seni lukis Bandung dikenali sebagai ‘markas-nya’ para pelukis abstrak, maka apakah yang kini bisa dikenali dari seni lukis Bandung kontemporer?

Pameran ini diharapkan mampu menampilkan kecenderungan berbeda untuk pembacaan seni lukis Bandung dalam perkembangan mutakhir.

3 Desember 2005

 
© 2014 Langgeng Gallery